Tiga Cara Menjadi Sosok Yang Ramah Lingkungan (Tidak Toxic)


Kita sudah banyak mendapatkan informasi mengenai ciri orang – orang toxic. Namun bagaimana caranya agar tidak menjadi toxic bagi sekeliling kita ?

Ada baiknya untuk kamu sedikit mereview ciri – ciri Toxic People yang sudah pernah kamu baca di sini. Ini cukup penting untuk kamu ketahui seandainya kamu berkeinginan untuk mengurangi kadar toxic kamu. Karena sebenarnya kita juga bisa tanpa sadar menjadi toxic karena terpapar toxic. Dan ini menjadi rangkaian penularan toxic yang paling mudah membunuh kemampuan kita untuk fokus pada sisi terang dari hidup ini.


Ketiga hal berikut ini akan membantumu menjadi sosok yang memiliki kadar toxic rendah bagi sekelilingmu. Jadi mari kita mulai dari yang pertama.


1. Tidak Usah Membuat Masalah Kecil Menjadi Besar


contoh cari - cari masalah.

Mereka yang toxic suka membesarkan hal yang seharusnya adalah sebuah masalah kecil. Bahkan terkadang hal yang dibesarkan tersebut sebenarnya bukanlah sebuah masalah sama sekali.


Caranya cukup simpel : memberikan komentar yang bernada menyindir atau memang terkesan memojokkan.


Kita merasakan energi, bukan hanya mendengarkan pertanyaan atau komentar. Kalau tubuhmu tiba – tiba merasa tidak nyaman dengan sebuah pertanyaan, padahal sebelumnya mood kamu lagi baik – baiknya, besar kemungkinan saat itu kamu terganggu dengan konten atau cara penyampaian (delivery) yang mereka ajukan.

Atau jika kontennya cukup netral, maka boleh jadi delivery nya yang menganggumu. Banyak jenis delivery dan content yang menganggu dan mengindikasikan bahwa kamu sudah melakukan suatu sikap beracun.


Untuk mudah membayangkannya, saya akan ilustrasikan melalui kisah berikut ini.


Kamu merupakan Ketua Kelas di salah satu mata perkuliahan di kampusmu. Ada seorang teman yang memang beberapa kali tidak masuk kuliah namun nilai ujiannya bagus. Kamu sebenarnya salut pada dirinya, tapi ketika suatu kali bertemu dengan si Tukang Bolos tersebut, alih – alih menanyakan dengan sopan kenapa dia sering tidak masuk, kamu malah mengeluarkan kalimat seperti ini :


“Sering banget ga masuk, nilainya bagus. Pasti anak Direktur Pendidikan nih”


Kalau mendapatkan kalimat seperti ini, saya dapat memprediksi bahwa pasti kamu akan merasa sangat terganggu dan bahkan boleh jadi kemudian mengeluarkan kalimat ngegas dan boleh jadi mengeluarkan kata – kata yang tidak sepantasnya.

Dalam kasus ini ada dua pendekatan yang bisa kamu lakukan agar kamu tidak menjadi sosok toxic bagi sekelilingmu.


Jika Kamu Ketua Kelas, kamu mengekspresikan kepedulianmu bukanlah dengan kalimat judjing. Kamu bisa memilih konten kalimat lain. Agar teman yang suka bolos tersebut bisa menjelaskan kendalanya. Atau kalaupun dia memang hanya sebatas malas, maka dia pun akan lebih berani mengungkapkan kenapa dia merasa malas. Boleh jadi sebenarnya itu dapat menjadi masukan untukmu agar bisa membuat suasana kelas menjadi lebih akrab dengan anggota kelas lainnya.


Tidak perlu kaku, tapi juga tidak perlu memancing percikan emosi dari lawan bicara. Masalah bolos harusnya tidak perlu menjadi masalah personal lain yang boleh jadi akan membuatmu dan si teman menjadi semakin berjarak. Ingat, sebagian besar masalah manusia itu sebenarnya lahir dari hubungan interpersonal. Jadi sekarang saya harap kamu memahami bahwa lebih baik kita berusaha lebih kreatif dalam mengartikulasikan suatu pernyataan atau pernyataan.


Jika Kamu Si Suka Bolos, kamu selalu punya pilihan untuk tidak membalasnya dengan emosi. Kamu bisa cukup mengamini pernyataan bernada toxicnya dengan mengiyakan saja tanpa perlu membantah dengan kalimat – kalimat kasar.

Selanjutnya tetaplah bersikap seperti biasa saja.


Tidak perlu membalas racun dengan racun yang lain. Jadi kamu hanya perlu meniru kinerja antibodi dalam mengurai racun, tenang dan menempatkan racun pada tempatnya.


Jadi, jika kamu tidak ingin menjadi seorang yang toxic, belajarlah untuk berhenti menciptakan drama dan mencari-cari hal yang salah dari sesuatu.



2. Kurangi Self-Centrist


Teknologi yang hadir di tengah kita saat ini membuat kita semakin terbiasa menjadi “digital monk” , kita hidup di tengah masyarakat tapi terkait dengan hanya layar yang ada di genggaman kita.


Saat ini, kita dikendalikan oleh algoritma sosial media untuk membentuk diri kita. Lahirnya validasi sosial dalam bentuk metrics love, like, dan subscribers membuat kita menjadi ketagihan dengan notif yang bermunculan di smartphone. Ini ternyata membentuk adiksi.


Kita menjadi semakin suka untuk berbagi apa pun dari sudut pandang kita sendiri untuk mendapatkan lebih banyak validasi dalam bentuk like, love, subscribers, dan angka followers tersebut.



Selfie tidak salah. Self - centered yang jadi masalah.

Akhirnya dalam perbincangan sehari – hari yang hadir hanyalah cerita atau kisah mengenai diri kita, karena adiksi tersebut menjalar pada perasaan bahwa hanya kisah AKU yang menarik. Sadar ataupun tidak sadar, kita menjadi self-centered.


Untuk menjadi sosok yang ramah lingkungan (tidak toxic), anda harus memahami bahwa kita hanyalah salah satu bagian kecil di semesta. Anda tidak perlu harus terus membagikan kisah mengenai diri anda, anda juga tidak perlu harus terus menjadi orang yang berbicara dalam interaksi sosial.


Kita tidak perlu mendominasi pembicaraan dengan hanya membagikan cerita tentang diri kita.


Umpan baliklah yang membuat lawan bicara merasa dihargai. Jika anda ingin membuat seseorang tidak merasa dihargai dan menganggap anda memiliki sindrom narsis, maka caranya simpel : dominasi saja semua pembicaraan.

Selain mendominasi, seorang yang self centered juga cenderung menganggap dirinya paling benar, dan tidak menghargai pandangan orang lain. Simpelnya kalau anda tidak ingin menjadi sosok yang toxic, maka jangan suka untuk egois dalam berbicara.