Tiga Alasan Terburuk Untuk Menjadi Seorang Pengusaha

Updated: Nov 14, 2020

Menjadi seorang entrepreneur tampaknya menjadi hal yang dilakukan semua anak keren di tahun 2020. Alih-alih menjadi aktor dan musisi terkenal, banyak anak muda saat ini mengidolakan wirausahawan terkenal seperti Gary Vee, atau Grant Cardone, Tai Lopez, bahkan Steve Jobs.

Mudah sekali menemukan postingan influencer di feed Instagram, berpose di sebelah Lamborghini, mengenakan Gucci dari kepala sampai kaki, dan kerap mengutip kata – kata dari buku – buku motivasi best seller kemudian dijadikan caption postingan sosial media. Kebanyakan dari mereka adalah remaja atau orang berusia 20 - 30an.


Mereka membuat gaya hidup mewah yang mencolok, yang dulunya hanya tersedia bagi bintang Hollywood, dan hal ini tampak dapat dicapai oleh semua orang melalui kewirausahaan. Banyak dari mereka berkhotbah tentang bagaimana mereka berasal dari ketiadaan, namun tetap menjadi super kaya dan sukses, dan semuanya terdengar sangat inspiratif.


Dengan banyaknya orang yang masih menganggur atau berjuang secara finansial karena pandemi COVID-19, ide memulai bisnis online menjadi lebih populer dari sebelumnya di tahun ini.


Bekerja dalam suatu pekerjaan kedengarannya tidak lagi aman karena bisa tiba-tiba menghilang dalam sekejap.


Padahal terkadang sebagian orang lebih cocok untuk menjadi karyawan ketimbang merintis bisnis yang penuh serba ketidakpastian, dan hal itu bukanlah hal yang memalukan.


Apa kira – kira yang menjadi faktor “Kenapa” ketika kamu berkeinginan memulai bisnis dan memutuskan untuk berwirausaha ?

Jawaban yang kamu berikan dapat menjadi insight yang menentukan di balik kenapa kamu masih bertahan di dalam sebuah bisnis atau justru hanya berpaling kepada sesuatu yang memungkinkan kamu menunjukkan citra bahwa kamu dapat masuk ke dalam lingkaran anak – anak keren yang menuliskan “entrepreneur a.k.a founder” di bio sosial media mereka.


Ada banyak alasan memulai sebuah bisnis ­, seperti kamu sudah menciptakan sebuah produk yang fantastis untuk dilempar ke pasar atau mempunyai jasa yang dapat ditawarkan karena dapat menjadi solusi bagi permasalahan mendasar di target pasarmu. Tapi, terlepas dari itu semua, saya menilai ada sejumlah alasan buruk untuk memulai sebuah bisnis.


"Kamu benci pekerjaanmu dan ingin segera berhenti"


Eksposur pertama saya ke dunia bisnis online adalah pada tahun 2012, ketika saat itu indonesia baru saja perlahan dikuasai oleh facebook, BBM (Blackberry Messenger) dan juga forum internet Kaskus masih merajai pembahasan sehari – hari anak muda.


Ketika itu banyak bisnis online bermunculan, peluang menjadi reseller dan dropshipper pun masih sangat terbuka lebar. Bahkan saat itu, kisah menjadi seorang entrepreneur sukses begitu indah terdengar.


“Keluar dari pekerjaan Anda dengan mendapatkan penghasilan pasif dan raih kebebasan untuk melakukan apa yang Anda sukai seperti bepergian atau bermain dengan orang – orang tersayang anda, dan milikilah hidup di dalam kendali anda sendiri”


Semuanya mungkin akan terdengar sangat bagus bagi mereka yang membenci pekerjaannya dan kemudian terbuai untuk segera berbisnis.


Namun, saya perhatikan bahwa orang-orang yang paling sukses meninggalkan pekerjaan kantorannya untuk berbisnis adalah mereka yang sudah memiliki pengalaman bisnis atau penjualan sebelumnya. Mereka ada karena mereka sangat menyukai proses membangun dan menjalankan bisnis, dan mereka benar-benar percaya pada produk/jasa yang mereka tawarkan itu.


Mereka berlari menuju bisnis mereka, bukan melarikan diri dari pekerjaan mereka.


Meskipun menjalankan bisnis mungkin terdengar seperti mimpi, jika kamu merasa sedih karena terjebak pada pekerjaanmu dan menginginkan lebih banyak kebebasan, kamu perlu memiliki sesuatu yang lebih besar dari sekedar "motivasi" ingin sukses, kamu harus siap pula pada kemungkinan gagalnya.


Faktor gagal dalam sebuah bisnis sangat tinggi, 80 persen usaha bahkan gagal dalam tahun ketiga. Ini artinya dari 10 orang yang sama - sama memulai bisnis, hanya ada 2 orang yang mampu bertahan.


Seluruh pengalaman mengajari saya, bahwa saya benar-benar ingin menjalankan bisnis. Meskipun tidak semua usaha yang saya rintis berhasil, namun ternyata saya masih berusaha mencari hal – hal baru yang bisa memberikan penghasilan dari hal – hal yang saya minati.


Namun paling tidak, kamu harus percaya pada produk atau layanan yang kamu miliki dan menikmati menjalankan bisnismu sehari-hari karena hari-hari biasa dalam kehidupan seorang pemilik bisnis akan sangat berbeda dari hari kerja biasa di tempat bekerjamu. Jika tidak, kamu hanya melarikan diri dari masalah, dan mungkin akan membuat masalah baru.

Kamu Ingin Cepat Kaya


Tidak ada salahnya bermimpi menjadi kaya sehingga kamu bisa membeli banyak barang keren. Itu adalah sesuatu yang diimpikan banyak orang, dan telah diimpikan selama beberapa generasi.


Fakta juga berbicara bahwa metode paling umum untuk mencapai kekayaan finansial adalah memulai bisnis dan berinvestasi pada sesuatu seperti saham atau real estate


Ketika menjalankan sebuah bisnis, penghasilan kamu amat sangat ditentukan oleh total transaksi yang bisa kamu dapatkan dari pelanggan. Tetapi, pelangganmu pun dapat mengetahui kapan kamu hanya memanfaatkannya demi uang. Dan mereka tidak akan menyukai atau mempercayai kamu yang berarti mereka mungkin tidak akan membeli apapun dari kamu.


Kamu mungkin pernah berurusan dengan penjual yang curang di beberapa titik dalam hidup. Mungkin di dealer mobil bekas atau salah satu toko yang menjual alat rebonding rambut seharga Rp 2.000.000 di mall. Dan itu mungkin memberi kamu perasaan tidak nyaman yang buruk, seperti "Bangke,, ni orang pengen cepet kaya nih jualnya mahal nih”


Tetapi ada konsep dalam dunia bisnis bahwa jumlah uang yang kamu hasilkan berkorelasi langsung dengan nilai yang kamu berikan. Jadi, ketika kamu fokus untuk memberikan lebih banyak nilai, alih - alih ingin mengeruk keuntungan besar dari pelanggan, kamu akhirnya menghasilkan lebih banyak uang sebagai hasilnya.

Memang agak malesin mendengar kata nilai (value) ini, namun faktor inilah yang ternyata dapat dirasakan oleh para calon pelanggan anda, yang membuat mereka akhirnya memutuskan untuk melakukan transaksi pada bisnis anda.


Agar terlihat keren di sosial media.

Menjalankan bisnis sangat berbeda dalam kehidupan nyata daripada di sosial media. Pengusaha terkenal di sosial media seperti Gary Vee, atau Grandt Cardone, saat ini memang sedang diperlakukan layaknya selebriti papan atas yang setara dengan artis kenamaan dunia.


Dapat hadir di event yang diisi oleh mereka kemudian membagikannya di sosial media memang akan menjadi salah satu validasi paling mudah untuk menaikkan kredibilitas di dunia internet agar dianggap sebagai sosok yang begitu tertarik pada dunia kewirausahaan atau memiliki bisnis yang mampu mengubah kehidupan dalam satu malam.


Tapi kita semua tahu bahwa media sosial bukanlah kehidupan nyata. Kebanyakan orang hanya memposting highlight reels dan bukan bloopers kehidupan mereka. Realitas kewirausahaan sehari-hari terlihat jauh lebih tidak glamor di kehidupan nyata daripada di Instagram.


Saya sudah berkenalan dengan beberapa pengusaha muda yang cukup berhasil menjalankan usahanya selama lebih dari 10 tahun dan keseharian mereka memang terlihat jauh lebih membosankan daripada kehidupan para seleb IG ataupun youtuber kece tanah air.


Yang jelas membangun usaha tidak seglamour yang sering ditawarkan realitas sosial media ataupun channel youtube Arif Muhammad dan Rico Huang yang kerap wara wiri dengan mobil mewahnya. Wajar karena mereka juga pastinya sudah melalui tahun - tahun yang berat hingga sampai ke titik saat ini.


Saya sendiri yang baru benar – benar terjun ke bidang bisnis internet secara full selama 2 tahun pun menjadi jengah untuk memposting sesuatu di sosial media karena menganggap tidak ada yang menarik bagi algoritma Instagram untuk sebuah postingan dari keseharian saya yang berkutat di depan laptop, bertemu partner bisnis, ngopi, brainstorm dan memproses transaksi yang berhasil saya dapatkan dari digital marketing yang saya lakukan.


Tanpa Lamborghini, ataupun pemandangan laptop di tepi kolam renang rasanya memang tidak mungkin keseharian saya dianggap menarik. Jangankan algoritma Instagram, bekas rekan – rekan kantoran saya pun mungkin akan menganggap saya menyedihkan.


Memang tidak ada salahnya menginginkan hal-hal materi itu. Anda harus bersiap untuk melakukan banyak hal dalam jangka waktu yang lama untuk mendapatkannya. Jika tidak, Anda mungkin lebih baik tetap bekerja karena kewirausahaan bisa membuat frustrasi dan menyedihkan jika Anda tidak memiliki pola pikir yang benar.


Jadi, ringkasnya, jangan memulai bisnis karena salah satu dari tiga alasan berikut:

  • Memulai bisnis karena kamu ingin memulai bisnis. Bukan karena kamu ingin berhenti dari pekerjaanmu

  • Ingin cepat kaya.

  • Agar terlihat keren di sosial media.


Saya tidak mengatakan bisnismu dijamin gagal jika salah satu atau semua alasan tersebut adalah motivator utama.Tapi mereka membuat kegagalan lebih mungkin terjadi.

38 views0 comments