Mungkin Kamu Termasuk Golongan Orang Yang Telat Mekar

Updated: Nov 9, 2020


Jika kamu seorang penggemar olahraga sepakbola, nama Adriano Leite tentulah cukup familiar. Mantan striker Brasil, Inter Milan, dan Parma, Adriano Leite, merupakan salah satu enigma terbesar dalam sepakbola abad ke-21.

Dulu Kaisar Sepakbola, Siapa Mengira Ia Kemudian Menjadi Mafia

Adriano sangat berbakat dan begitu

mematikan tiap kali bola jatuh ke ke kakinya. Ia tampil sebagai sosok yang punya segala atribut untuk mewarisi takhta Ronaldo sebagai striker terbaik Brasil di peralihan millennium.


Namun, siapa sangka kematian Sang Ayah yang terjadi begitu tiba - tiba membuat Adriano kehilangan semua karir mentereng yang sempat dirintisnya.

Kisah Adriano juga kerap terjadi di sekeliling kita. Saya menyebutnya "Early Bloomers Who Failed To Bloom"

Kata "failed" di sini bukanlah final, karena itu saya tidak menggunakan kata failure untuk mengkategorikannya. Selayaknya seorang prodigy di dunia olahraga, di tengah - tengah kita juga ada orang - orang yang saat ini terlihat selalu berada di dalam fast track pencapaian. Mereka selalu cepat mencapai titik yang mereka inginkan, dan kemudian meninggalkan kita yang tertatih - tatih terperangah menyaksikan pencapaiannya.

Ketika masuk SD, saya belum bisa membaca dengan lancar. Saya masih ingat betapa mindernya ketika itu, karena mengetahui bahwa rekan sebangku saya sudah dapat membaca dengan lancar. Setiap kali guru kami menyuruh membaca dengan lantang, saya tidak bisa membacanya dengan baik. Namun saya punya kemampuan mengingat yang bagus, sehingga saya menghafalkan apa yang diucapkan oleh pembaca sebelumnya, dan kemudian menirukannya ketika giliran saya tiba.


Ayah saya tahu mengenai hal ini, dan selayaknya orang tua "boomers" yang tidak ingin anaknya tertinggal dari yang lain, ia mengeluarkan petuah dengan nada tegas yang bercampur kekecewaan. Kalimat itu cukup powerful : "tidak masalah bagaimana awalnya, yang penting nanti ke depannya berakhir seperti apa. hidup ini bukan bagaimana kita memulai, tapi bagaimana nanti kita berakhir"


Mungkin karena perasaan minder itu juga, kemudian dalam waktu dua minggu, tiba - tiba saya dapat membaca dengan lancar. Bahkan kemampuan berhitung saya pun meningkat. Peringkat saya di kelas melonjak tajam, dari sebelumnya tidak masuk tiga besar, menjadi ranking pertama di kelas. Kabar luar biasanya lagi, saya mampu mempertahankannya sampai lulus. Tidak pernah rangking 1 itu lepas dari saya.


Di SMP, peristiwa ketika di Sekolah Dasar seperti diputar kembali. Di kelas tujuh saya hanya menjadi siswa biasa - biasa saja secara peringkat, namun ternyata di kelas 8 hingga kelas 9 semester awal saya berhasil memperoleh ranking satu bahkan sempat ditawarkan berseolah dengan beasiswa full ke UWC Singapore meskipun kemudian saya masih lebih memilih untuk menghabiskan kewajiban belajar 12 tahun di kampung halaman.


Saya terus menjadi late bloomer hingga berkuliah di semester awal. Sebagai seorang lulusan jurusan IPA yang nyebrang ke IPS (Ilmu Komunikasi), saya juga merasa keteteran untuk menyesuaikan diri dengan mata kuliah khas Ilmu Pengetahuan Sosial. Politik, Kesejahteraan Sosial, Sosiologi, hingga Pengantar Hukum menjadi hal baru bagi saya.


Berat sekali rasanya ketika itu. Ditambah kebingungan mengenai jalan apa yang akan saya pilih selanjutnya setelah lulus. Namun saya sangat bersyukur dapat lulus dalam waktu yang relatif cepat (3.5 tahun).


Ketika memulai bekerja di dunia profesional, kebanyakan dari kita seperti kehilangan tempo pribadi (Daniel H Pink menyebutnya chronotype). Kita begitu terobsesi dengan sukses di usia semuda mungkin. Saya pun demikian, untuk mengejar predikat early bloomers, saya membenamkan diri dengan target - target pekerjaan yang menyita waktu banyak.


Bahkan pernah tidak mengambil libur sama sekali dalam 2 bulan tanpa meminta compensation day dengan harapan dapat mencapai 10.000 jam pada pekerjaan yang saya lakukan dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan orang lain, sehingga saya dapat menggolongkan diri saya sebagai seorang yang ekspert dan mempertinggi probabilitas sukses di usia semuda mungkin sebagaimana yang dituliskan Malcolm Gladwell di dalam Outliers.

Mengejar ambisi pribadi agar memiliki segala pencapaian material tidak selalu menjadi motivasi yang tepat bagi semua orang

Berhasil dalam karir biasanya identik pula dengan meningkatnya hal - hal berbau materi. Gaji yang lebih tinggi, posisi yang lebih nyaman, limit kartu kredit yang lebih besar, dan seterusnya. Namun apakah semua waktu yang kita habiskan untuk mendapatkan benda - benda tersebut selalu sebanding dengan kesempatan kita untuk dapat menikmatinya kembali ?


Saya tidak menampik kenyataan bahwa ada sebagaian orang yang mampu mendapatkan semua hal tersebut dalam waktu singkat dan relatif cepat. Namun, perkara hidup ini bukan lah zero sum game dimana ketika kita terlambat di satu hal maka hal lainnya juga akan telambat. Setiap kita memiliki chronotype yang berbeda, tidak hanya dalam urusan waktu terbaik untuk bekerja tapi termasuk urusan bercinta !

Karyanya baru diakui ketika berusia 36 tahun, namun Stan Lee terus berkarya berusia lebih dari 91 tahun
Karyanya baru dikenal luas ketika berusia 36 tahun, namun Stan Lee terus berkarya hingga usia 91 tahun

Itulah kenapa daftar 30 Before 30 tidak lagi menarik bagi diri saya, karena perkara waktu yang dibesar - besarkan tersebut ternyata tidak selalu baik. Seolah jika sudah berumur 40 maka dunia akan runtuh atau ajal akan datang menjemput.


Tidak mekar di usia 20 - 30 bukan berarti kamu lebih buruk dibandingkan mereka. Jika kamu berhasil hari ini dengan semua rencanamu, bukan berarti saranmu akan selalu tepat kamu sampaikan kepada orang lain, karena dasar permasalahan yang kita alami tidak 100 persen sama. Lagian tidak semua orang juga menceritakan perosalannya dengan gamblang dan blak - blakan secara keseluruhan. Kita pasti akan menyensor beberapa part, agar pantas untuk disampaikan. Itulah kenapa, sudah saatnya kamu buang jauh - jauh pemikiran "tertinggal kereta" dari rekan - rekanmu yang merupakan early bloomers.

Selama masih hidup, kita sebenarnya tetap bergerak maju bersama waktu

Saat Kamu bergerak maju, ada beberapa hal yang perlu diingat. Pertama dan terutama, tidak ada kata terlambat untuk “menjadi” diri Anda sendiri. Aristoteles, misalnya, tidak sepenuhnya mengabdikan dirinya untuk menulis dan filosofi sampai ia berusia hampir 50 tahun. Ada juga manfaat untuk menempuh jalan panjang yang berliku menuju pemenuhan diri.


Ingatlah bahwa usia biasanya membawa kebijaksanaan, ketangguhan, kerendahan hati, pengetahuan diri, dan kreativitas. Ini adalah salah satu alasan usia rata-rata pendiri perusahaan baru yang tumbuh tinggi adalah 45 tahun.



Mengutip karya psikolog perkembangan Erik Erikson, Karlgaard menulis di dalam bukunya, “Usia 40 hingga 64 merupakan periode unik dimana kreativitas dan pengalaman seseorang berpadu dengan rasa "kerinduan universal" untuk menjadikan hidup kita penting.”

Telat bukan berarti otomatis gagal.

Harus diakui bahwa hampir semua kita tidak senang dengan keterlambatan, terlebih kita secara universal berada dalam budaya yang berfokus untuk menemukan kesuksesan awal.


Beberapa dari kita ialah seorang Rock Star yang muncul melesat dan langsung bersinar. Tapi sebagian yang lain belum membuka kotak pandora yang yang dimiliki sampai waktunya.


Jika saat ini anda lebih terbuai dengan kisah wonder kid seperti CR 7, Neymar, ataupun Messi, maka cobalah sesekali membaca bagaimana seorang Miroslav Klose yang justru mampu sejajar dengan legenda dunia sebagai pencetak gol terbanyak di World Cup pada usia yang tidak lagi muda. Bahkan ia mampu membawa Jerman menjadi Juara Piala Dunia 2014 saat usianya tidak lagi muda, 36 tahun ! Sebuah prestasi yang belum dimiliki CR, ataupun si alien Messi.



79 views0 comments