Kenapa Menjauh Dari Berita Akan Membuatmu Lebih Pintar

Updated: Feb 21, 2020

Dari dulu, saya selalu percaya bahwa mengikuti berita setiap hari akan membuat saya menjadi lebih pintar. Karena setiap hari saya akan mempunyai sesuatu yang baru untuk dapat dibicarakan di dalam pergaulan sosial.


Dampak lebih besarnya lagi ialah, saya merasa begitu “di atas” jika mampu menjadi orang yang selalu dapat terhubung dengan berbagai berita yang saat itu menjadi headline.


Menjadi seorang yang begitu “nagih” pada update berita mulai dari yang baik hingga yang buruk membuat saya kerap sekali menggunakan informasi di dalam berita sebagai titik awal setiap kali akan melakukan sesuatu ataupun membuat keputusan.


Lebih jauh lagi, ternyata dengan menjadi seorang penikmat berita saya mulai mengabaikan pengetahun awal yang sudah saya miliki tentang sesuatu untuk kemudian menggantikannya dengan informasi yang saya dapatkan dari sebuah berita.



Sejak saat itu saya pun tenggelam dalam lebih banyak hal buruk di dunia yang perlu saya ketahui mengenai ekonomi memburuk, bakso tikus, pemerkosaan, pembunuhan, korupsi, gajah kurap beranak kura – kura yang menjadi pilihan informasi yang disampaikan berulang untuk “menghibur” mereka yang tidak sadar bahwa informasi tersebut tidak relevan dengan kehidupan kita.



Kebanyakan informasi yang hadir tersebut kita telan dengan alasan : supaya update. Benarkah menjadi “update” ialah hal yang benar – benar berguna ?
Jika kamu tidak mendapatkan keuntungan, maka kamu adalah produk yang dijual !

Yang saya maksudkan adalah bahwa ada motivasi tersembunyi di balik oleh konsepsi normal kita tentang berita. Bukan hanya di sana untuk memberi tahu Anda, itu juga ada untuk "menyesuaikan" Anda. Itu dimuat dengan propaganda pemerintah dan pemasaran korporasi. Mereka mendapat untung lebih banyak dari sensasionalisme, seks, kejahatan, kerajaan lelucon - fiktif, dan olahraga daripada dari kebenaran.


Kemudian kita tidak melihat mereka yang bahagia di dunia ini karena yang kita terima dari bangun di pagi hari ialah kisah KDRT. Kemudian dilanjutkan dengan ekonomi membaik padahal sebenarnya ada sejumlah kenyataan berbeda yang kita saksikan. Perhatian kita semakin bising dengan kisah pramugari gundik yang tidak ada hubungan dengan semakin terjangkaunya tiket pesawat di kalangan masyarakat.


Sebagian besar berita secara mendasar bertolak belakang dengan apa yang sebenarnya kita alami sehari – hari. Secara tidak sadar perspektif kita tentang suatu persoalan menjadi condong ke salah satu hal yang kerap diulang – ulang dengan pengemasan yang membuat perhatian kita terus terkuras.


Saya tidak mengatakan seluruh karya jurnalisme itu hal yang buruk untuk kita. Ada perbedaan besar antara liputan indepth mengenai Bisnis Baru Anak Bapak Bram Yang Mendapatkan Pendanaan Venture Capital, dengan berita mengenai Penyalahgunaan Kekuasaan Pejabat Negara yang dipilih oleh rakyat.


Alasan lain yang membuat kita menjadi tidak lebih pintar dengan mengonsumsi berita ialah, karena berita yang disampaikan sudah melalui struktur penarikan kesimpulan yang membuat kita tidak lagi berusaha berpikir untuk menarik kesimpulan. Karena secara tidak sadar kita menggunakan itu sebagai kesimpulan milik kita sendiri. Padahal pada dasarnya tetap ada subjektivitas dari media ataupun si penulis berita. Namun ini sering sekali tidak kita sadari.


Tahun 2019 lalu saya melakukan “detoks berita” terhadap diri saya sendiri. Dan fakta yang saya alami ialah :

1. Saya Merasa Lebih Baik Dengan Mengurangi Negative Bias


Setiap kali secara tidak sengaja saya membaca berita atau menyaksikan breaking news, saya langsung bertanya pada diri saya.


Apa relevansinya saya mengetahui hal ini untuk membuat hari – hari saya lebih baik?


Cobalah secara sadar bertanya lebih sering pada diri anda mengenai hal ini. Dan anda akan terkejut bahwa sering sekali kita tersadar bahwa kebanyakan berita tersebut tidak memiliki relevansi apapun untuk membuat hidup kita lebih baik ke depannya.


Saya menjadi tersadar bahwa sedikit sekali yang akurat dari apa yang saya saksikan ataupun baca.

Apa yang muncul adalah apa pun yang dijual, dan apa yang dijual adalah rasa takut, dan penghinaan terhadap kelompok orang lain.


Karena seperti inilah berita bekerja. Harus ada negative bias yang bisa dieksploitasi, karena dengan seperti itu ia bisa mendapatkan perhatian anda. Formulanya dapat dengan mudah terbaca :


• Yang Luar Biasa

• Mengerikan

• Yang Besar Kemungkinannya Menjadi Populer


Jadi pandangan bahwa dengan banyak mengikuti berita kita menjadi lebih memahami dunia adalah pandangan yang luar biasa absurd.


Susun portofolio informasi Anda sendiri dengan mencari hal - hal yang sebenarnya lebih urgent untuk anda ketahui. Anda dapat memperoleh informasi yang lebih baik tentang dunia dari sumber yang lebih dalam, yang membutuhkan waktu lebih dari setengah hari untuk menyatukannya.


Berita adalah serangkaian kisah yang tampaknya absurd yang pada akhirnya kelihatan sama, parade tak berujung dari negara-negara yang dilanda kemiskinan, rangkaian peristiwa yang, setelah muncul tanpa penjelasan, akan menghilang tanpa solusi - Zaire hari ini, Bosnia kemarin, Kongo besok .

-Pierre Bordieu



2. Memiliki Informasi Yang Mendalam Lebih Baik Daripada Misinformasi


Ada begitu banyak informasi yang lebih anda butuhkan daripada potongan soundbite pakar yang ada baca atau tonton di media pemberitaan. Kemasan mie instant yang sering anda makan, mengandung informasi nutrisi. Kemasan pomade anda juga mengandung informasi.


Coba mulailah telaah dari hal yang paling sering melekat pada diri anda alih – alih mendapatkan informasi yang tidak begitu relevan, menelaah informasi secara lebih mendalam akan menjadikan anda sosok yang lebih cerdas. Mulailah membaca buku yang menarik minat anda. Lebih baik mendapatkan informasi mendalam dengan volume terbatas daripada mengakses informasi tidak terbatas namun tidak mendidik kita.


3. Menjadi Lebih Banyak Berbuat Daripada Hanya Sebatas Tersadarkan


Berapa kali anda menyimak berita yang begitu menakutkan tapi justru tidak melakukan apa pun. Tapi hanya sebatas memiliki perasaan batin untuk mengatakan


“Mengerikan, tapi saya tidak bisa berbuat apa – apa. Namun setidaknya saya peduli”


Menyaksikan bencana, mengikuti breaking news musibah memang memberikan adiksi tersendiri. Kita bisa tetap tidak terlibat tanpa merasa tidak terlibat.


Ini mungkin alasan terbesar kita takut mematikan berita. Dan itu mungkin alasan terbaik untuk melakukannya.


Sudahkah Anda berhenti dari berita? Perubahan apa yang kamu rasakan ?





171 views2 comments