Seni Mengontrol Diri di Tengah Pandemi


Kita tidak pernah dapat mengontrol apa yang terjadi di sekeliling kita. Kita tidak pernah akan mampu membuat semua orang akan mendengar, melakukan dan mengikuti apa yang kita sampaikan. Kita hanya mampu mengontrol reaksi kita terhadap apa yang terjadi di dunia.


Ini juga berlaku pada kondisi saat ini, dimana covid 19 telah menjadi pandemi global dan perlahan juga akan menjangkiti seluruh dunia. Memang menyebalkan melihat bagaimana cara pemerintahan dunia merespon wabah ini. Meremehkan tanpa ada rencana matang sama sekali.


Namun, amarah tidak akan membantu, tweet kasar juga belum tentu akan di dengarkan. Berteriak dan memaki mereka para penimbun hand sanitizer dan masker, juga tidak benar – benar akan menjadi solusi. Menyalahkan media yang mengangkat hal – hal remeh tidak berdasarkan sains, seperti jamu dan empon empon sebagai penangkal corona juga hanya buang – buang energi.


Tidak satupun dari hal – hal di atas akan menyelamatkan kita. Satu – satunya hal yang dapat kita lakukan ialah bagaimana cara meresponnya. Tidak masalah bagaimana orang lain telah mengabaikannya atau bias terhadap wabah ini. Kita memiliki tanggung jawab masing – masing untuk terus belajar dan menerapkan petunjuk yang sudah diimbaukan oleh WHO ataupun protokol keselamatan yang sudah teruji dari negara – negara lain.


Seriuskah Pemerintah Saat Mengeluarkan Pernyataan Bahwa Jamu Bikin Kita Kebal Corona ?

Jamu dan empon – empon mungkin membantu, namun percayalah rutin mencuci tangan, menutup hidung – mulut ketika bersin, serta menjauh dari kerumunan orang jauh lebih terbukti menghindarkan diri dari resiko penularan.


Jangan menjadi orang bodoh dengan merasa kamu akan selamat dari wabah ini, atau mencoba mengambil keuntungan dari ketakutan orang lain. Apalagi merasa memiliki keunggulan gen dan iklim. Selama belum terbukti secara sains, jangan mengorbankan orang lain dengan kebodohan diri sendiri.


Jika merasa sakit atau tidak enak badan, lebih baik dirumah aja. Jika memiliki privilege untuk bisa bekerja di rumah, ya tidak perlu berusaha buat jadwal agar bisa bekerja di café. Satu lagi, untuk sementara tidak usah salaman, high five, cium pipi kanan kiri, dan pelukan. Salam siku ? Bahkan ini pun sudah dimasukkan list sebagai hal yang dapat mempermudah penularan covid 19 oleh WHO.


Kalaupun kamu merasa sehat, tetaplah dirumah saja. Lakukan tugas kita untuk melandaikan kurva penularan sehingga medis bisa menyembuhkan yang sudah tertular. Saat ini tanggung jawab pribadi yang melekat pada diri kita ialah tidak tertular dengan cara – cara yang konyol. Seperti apa misalnya ? Merasa kebal karena sudah minum jamu.


Ada begitu banyak orang di luar sana yang membutuhkan akses perawatan dari rumah sakit, namun medis juga memiliki keterbatasan untuk bisa melawan covid 19 yang belum memiliki vaksin. Tidak ada individu yang bisa memecahkan persoalan ini sendiri. Tidak presiden, tidak pula negara superpower. Bahkan di negara maju seperti Italia dan Amerika Serikat pun, jumlah korban sudah begitu banyak.

Namun kita bisa melakukan sesuatu dengan bersama – sama sekalipun hanya melalui rumah masing – masing. Pemilik usaha bisa berupaya untuk menganjurkan karyawannya agar bekerja dari rumah, mengurangi volume tatap muka dan bepergian, atau membatalkan event yang sudah dijadwalkan sebelumnya.


Saat ini, penyebarannya memang sudah serius. Indonesia yang beriklim tropis dan punya banyak jamu pun tidak selamat dari wabah ini. Sudah ratusan yang saat ini meninggalkan kita, termasuk dokter dan tenaga medis yang juga gugur sebagai pahlawan kesehatan.


Saat ini, mari kembali menyalakan sensor kepedulian pada lingkungan kita. Bantulah mereka yang membutuhkan seandainya kamu bisa membantunya. Jika bisa membantu dengan ide, maka berikan ide yang dapat memudahkan hari mereka, seperti misalnya jika tetanggamu ada yang sudah tua dan butuh berbelanja, maka tawarkan bantuanmu.


Jika kamu melihat petugas kebersihan (pengangkut sampah) tiba di depan rumahmu, maka jika kamu punya kelebihan rezeki, maka ulurkan tanganmu untuk memberikan mereka sebagian kecil dari uang yang kamu miliki untuk meringankan hari – hari mereka. Ingat tidak semua memiliki kemudahan dalam fase darurat ini. Namun kita semua dapat melatih kembali kepedulian kita saat ini.


Ramadan dan Idul Fitri yang akan tiba sesaat lagi juga bukan merupakan alasan untuk melakukan kunjungan ke orang tuamu. Pasti akan banyak yang meragukan kebaikan dari social – physical distancing terhadap orang tua terlebih pada fase seperti ini. Tapi percayalah, bahwa pilihan untuk berada di rumah saja sampai wabah selesai merupakan pilihan terbaik dari situasi yang buruk ini.


Karena berdasarkan data, mereka yang berusia di atas 60 tahun memiliki resiko untuk tertular menjadi lebih tinggi. Terlebih jika sudah memiliki penyakit pendahulu seperti diabetes, jantung, ataupun stroke. Jangan hanya mengandalkan hati dan keyakinan saat ini, karena tidak ada yang tahu siapa yang sudah tertular atau belum tertular.


Namun kita bisa memilih bagaimana cara kita menjalani hari – hari yang kita miliki. Berada di rumah saja dengan melakukan isolasi mandiri bukan berarti kita dipenjara dan tidak bisa melakukan hal – hal produktif. Self – quarantine bukan berarti kita harus mengalami kemunduran dalam pengembangan diri dan keterampilan lain, sehingga ketika isolasi mandiri selesai, kita pun seharusnya bisa menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan ketika kita belum menjalaninya.


Kita harus bersyukur karena, virus covid 19 tidak mematikan jaringan internet seluruh dunia. Dia juga tidak terbukti secara medis ikut mempengaruhi kemampuan nalar dan bekerja kita. Sehingga kita masih bisa berpikir dan melakukan hal – hal baik lainnya tanpa harus hanya sebatas binge watching, bermain game, ataupun berleha – leha dengan alasan tidak tahu harus melakukan apa.


Isolasi mandiri yang kita lakukan haruslah menjadi momen kita melakukan ataupun mengembangkan proyek individual yang selama ini sering terhambat karena kesibukan di luar rumah ataupun karena waktu yang terbuang di dalam perjalanan.


Jangan hanya membunuh waktu, dengan melakukan hal – hal tidak produktif. Tapi berpikirlah untuk menggunakan waktu yang ada saat isolasi mandiri ini sebagai saat – saat terbaik untuk mengerjakan hal – hal yang selama ini tertunda. Jangan mati sebelum ajal menjemput, ini artinya jangan hanya menggunakan waktu untuk berleha – leha tanpa tujuan dalam fase isolasi ini.


Tetaplah mendapatkan cukup infomasi, tanpa perlu menyebarkan informasi yang belum bisa dibuktikan kebenarannya. Milikilah pertimbangan pribadi yang cukup sebelum menyebarkan sebuah artikel, gambar, ataupun video. Pertimbangkan kebergunaannya, tanpa mengabaikan kemungkinan mudharatnya. Jangan hanya sebatas menjadi yang pertama ataupun viral di sosial media.


Kita tidak tahu sebenarnya kenapa wabah ini bisa menyebar ke seluruh belahan dunia dengan begitu mudahnya. Namun kita mengerti, bahwa lambatnya pemahaman mereka yang harusnya mengambil keputusan dalam melakukan pencegahan adalah satu yang memperburuk efek wabah ini.


Bagaimanapun, kepanikan kini tidak akan bisa mengubah keadaan yang sudah terlanjur terjadi. Hanya kewaspadaan dan kedisiplinan diri yang mampu kita lakukan saat ini. Disiplin menjaga kebersihan diri, asupan makanan, kondisi batin, dan jarak fisik menjadi hal yang masih dapat kita lakukan terlepas dari berbagai kebijakan politis para pemimpin yang juga tidak benar – benar dapat menolong semua pihak sekaligus.


Jangan memborong kebutuhan medis, seperti masker, sarung tangan bedah, hand rub, ataupun APD yang saat ini sudah langka stoknya. Jangan menjadi brengsek dengan merasa egois. Tidak perlu berlebihan karena kita memang tidak benar - benar membutuhkan. Medis yang kekurangan harusnya menjadi prioritas untuk hazmat dan Alat Perlindungan Diri lainnya. Kamu dapat membantu dari berbagai platform, salah satunya yang pernah saya lakukan, Jihad 1000 Hazmat Untuk Medis.


Kini, kita sama – sama terisolasi. Beruntunglah bagi kamu yang saat ini tinggal bersama keluarga ataupun orang yang kamu sayangi. Satu hal lain yang dapat kamu lakukan di fase wabah ini ialah : bahagiakan mereka.


Bangunlah momen – momen membahagiakan bersama. Ini saatnya kamu dapat membangun kembali keakraban keluarga yang mungkin selama ini agak renggang karena kesibukan masing – masing di luar rumah.


Jadi tanpa perlu lebih banyak bertanya tanggung jawab apa yang harus saya ambil dalam fase pandemi ini, marilah kita menjadi lebih disiplin dalam menjaga kebersihan diri, semakin bijaksana dalam memandang dunia yang ternyata saling terhubung satu sama lain, serta langkah kecil yang harus kita lakukan karena di sana ada kebijaksanaan untuk menyelamatkan diri kita, keluarga kita, dan pada akhirnya dunia.


Namun, bukan berarti kita tidak akan mati, kita semua akan meninggal dengan cara masing – masing. Tidak perlu khawatir, namun juga tidak perlu terlalu bodoh untuk berusaha menjemput wabah dengan cara – cara yang konyol.




Referensi :