Kita Sering Tidak Berdaya Jika Hasilnya Tidak Sesuai Dengan Nafsu

Updated: Sep 8


Nafsu yang membedakan kita dengan malaikat. Namun itu juga yang membuat kita lebih hina dari binatang. Akui saja, kita semua memiliki nafsu yang menuntun untuk melakukan sesuatu hingga detik ini. Nafsu pun yang membuat manusia bisa terus melangsungkan hidupnya.


Sejak zaman dahulu, nafsu yang tidak dikendalikan sudah menjadi penjerumus manusia. Nenek moyang kita pun terusir dari surga karena mengikuti nafsu yang tidak dapat dikendalikannya, sehingga ia mencicipi buah khuldi.


Kini perkara nafsu bukan lagi sebatas kisah terusirnya nenek moyang umat manusia dari surga yang membuat kita menghuni satu – satunya planet yang memiliki kehidupan di alam semesta. Nafsu kini sudah mampu “dikondisikan” untuk menjadi penuntut manusia dalam mengambil tindakan ataupun pilihan.


Salah satu contohnya ialah, smartphone yang kamu pegang saat ini. Berapa lama kamu mampu menahan untuk tidak menyentuhnya ketika ada notif yang muncul dari salah satu aplikasi favoritmu?


Coba sesekali lihat screen time ponselmu, untuk mengetahui seberapa candu kamu dengan salah satu aplikasi yang menurutmu memberikan efek senang. Kini kita semakin terikat pada nafsu yang dikondisikan melalui habit yang terpola dari berbagai data.


Hal ini pula yang membuat kita semakin terbiasa mengejar apa yang dibisikkan nafsu dan kemudian merasa tak berdaya dibuatnya.


Ambisi Yang Keliru

Kita selalu berkeinginan sampai lupa berpikir

Kita selalu dipenuhi ambisi untuk sampai pada titik pencapaian tertentu dan barulah merasa bersyukur sejenak.


Hanya sebatas merayakan tercapainya ambisi yang satu untuk mengejar ambisi lainnya.


Kita sering gusar dan insecure jika berkaitan dengan bisnis baru, proyek baru, karir, ataupun nominal tertentu yang ingin dikejar.


Berbicara mengenai kerendahan hati dalam kesederhaan rasanya tidak akan mendapatkan tempat sebelum kita dilihat berpunya barulah bisa bergaya sederhana.


Tidak ada yang salah pada impian memiliki bisnis baru. Bukan pula keliru pada target nominal yang ingin dikejarnya. Tetapi dari cara mengejarnya.


Seberapa sering aturan disiasati untuk memuluskan sebuah rencana proyek baru? Seberapa sering pula kekacauan terjadi karena hal itu.


Dimana ada gula di situ ada semut, menjadikan kita manusia yang dikarunia akal justru bertindak lebih rendah dari semut. Jika semut hanya mencari gula, maka ambisi manusia yang dikendalikan nafsu bisa lebih dari itu !


Mereka akan inginkan tebunya, tanahnya, sumber airnya, kalau perlu seluruh hutannya agar gulanya semakin banyak. Jika semut mencari rezeki maka manusia hari ini, mencari kemewahan. Padahal kemewahan adalah pangkal dari ambisi yang keliru.

Tapi kita semakin terbiasa dengan keinginan memiliki kemewahan, sehingga kita berusaha memperoleh lebih dari apa yang sebenarnya dapat kita nikmati.

Kemudian kita pun merasa tak berdaya, ketika kemewahan yang ingin kita kejar tidak kita dapatkan.


Godaan Yang Selalu Kita Bawa Itu Adalah Nafsu


Nafsu adalah godaan yang sangat halus. Ia tidak berasal dari luar diri kita, ia ada di dalam diri dan membuat kita ingin melakukan sesuatu ataupun tidak ingin melakukannya. Namun ia selalu menyuruh pada pemenuhan kesenangan manusia. Ia bukan hal mutlak yang buruk, namun memiliki kecenderungan untuk menyimpang.


Coba ingat ketika kamu menerobos lampu merah di jalan raya dengan alasan jalanan sepi dan takut terlambat ke tujuan, maka akan ada dua pilihan keputusan yang muncul di dalam batin.


Meskipun akal sudah membisikkan yang benar ialah berhenti sesuai aturan, namun tidak jarang pula akal dipaksa tunduk dengan berbagai alasan lainnya yang akhirnya membuat seseorang terbiasa melakukan hal yang melanggar.


Nafsu juga terkadang mengarahkan manusia melakukan sesuatu, lengkap dengan rasionalitas yang kerap dipersepsikan sebagai hal yang bersumber dari akal sehat. Terkadang ia bersinergi pula dengan rasa was – was (bisikan buruk) yang juga dibisikkan oleh setan. Seseorang yang tidak mampu mengendalikan nafsunya, akan menganggap hal tersebut berasal dari akal sehatnya dan kemudian mereka pun bertindak seperti ilusi yang dihadirkan oleh nafsu.


Kita pun kembali tidak berdaya, ketika rasa was – was yang tidak jelas muasalnya hadir dan membuat kita mengikuti jalan yang dipilihkan oleh hawa nafsu.


Kenapa Kita Menginginkan Pencapaian Itu ?


Pernahkah kamu benar – benar berpikir alasan dibalik kamu menginginkan sesuatu ? Kenapa menginginkan jabatan itu, kenapa menginginkan usaha itu, kenapa menginginkan rumah yang besar itu. Kenapa menginginkan pernikahan itu?


Kenapa harus memaksa diri untuk sampai pada titik pencapaian yang baru dengan mengorbankan banyak hal lain termasuk kemuliaan diri. Mudah untuk silau pada apa yang dimiliki oleh orang lain tapi sulit untuk benar – benar tersadar bahwa manusia tidak akan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, dan hal itu pun sebenarnya bukan kesalahan.


Rumah yang kita inginkan mungkin besar sekali, tapi kemudian hanya terasa seperti tempat menumpuk benda, bukan cinta, ketataan dan kebahagiaan.


Usaha yang yang kita kejar dengan terabas sana – sini, kemudian hanya kita jadikan sebagai mesin uang yang berasal dari cara yang juga tidak benar – benar terbebas dari syubhat dan haram.


Karena ingin dipandang pantas di tengah masyarakat yang semakin cinta pada benda – benda kemudian kita berusaha mencocokkan hawa nafsu dengan rasionalitas, karena manusia kerap merasa gagal jika pencapaiannya bertentangan dengan nafsu.


Jika kamu peduli dan kerap memperhatikan lingkungan tempat tinggalmu, mungkin kamu akan menemukan bahwa ada begitu banyak mereka yang punya jabatan tinggi di perkantoran, namun tidak dianggap terhormat oleh sekitar. Di sisi lain ada mereka yang biasa – biasa saja jabatannya, tapi mendapatkan penghargaan berbeda dari sekelilingnya karena peran mereka.


Bahkan ketika mereka yang biasa – biasa saja ini meninggal dunia, rasanya hampir setiap orang memberikan penghormatan dan punya kenangan khusus tentangnya. Kamu mungkin sudah sering mendapatkan sosok seperti ini; mereka yang biasa – biasa saja pencapaian duniawinya, justru meninggalkan kesan yang mencapai sisi terdalam hati manusia.


Untuk apa gelar yang banyak itu jika hanya untuk memuaskan ambisi menaiki tangga instansi sampai lupa fungsi hadir di dunia, bahwa kita mendapatkan tempat di sisi kenangan manusia berdasarkan amalan baik, dan diberikan derajat di hadapan Allah sesuai tingkat ketaqwaan. Sementara budi baik dan ketaqwaan bukanlah hal yang bisa diperlihatkan / dipamerkan.

Tapi pernahkan kita bersungguh – sungguh untuk berlomba dalam hal baik dan ketaqwaan ?

Bukankah kita sering mengeluarkan alasan, ga usah terlalu alim lah.


Sekali lagi, manusia terjebak pada pencapaian yang akhirnya sering membuat tidak berdaya karena dikendalikan oleh nafsu.