Sebenarnya Kita Sama - Sama Tidak Tahu

Updated: Jul 10, 2020

Pada dasarnya kita semua berada dalam satu titik buta yang sama. Kita sama - sama berjalan untuk menemukan jawaban dari persoalan - persoalan sederhana normal di dalam hidup. Intinya, tidak ada seorang pun yang jauh lebih tahu bagaimana seharusnya kita menyelesaikan persoalan yang kita hadapi selain diri kita sendiri. Namun, kita sudah terlalu lama cenderung menaruh rasa hormat yang rendah pada diri, sehingga kerap memandang orang lain jauh lebih unggul dari diri kita sendiri.

Kita hanya cenderung terlalu menaruh rasa hormat pada orang yang kita anggap lebih jenius.

Dimulai dari pola kehidupan universal dimana hampir semua anak yang terlahir di dunia tidaklah pernah bisa menjadi seperti seekor anak ayam yang baru menetas dari telurnya. Kita sebagai mamalia selalu membutuhkan orang yang lebih dewasa untuk bisa membantu kita hingga usia dimana kita bisa menyuapkan makanan sendiri tanpa bantuan orang lain.


Kita memulai hidup dikelilingi oleh orang-orang yang tahu lebih banyak daripada yang kita bisa. Bagi seorang anak berusia empat tahun, orang dewasa yang sangat biasa adalah keajaiban kecerdasan tertinggi; mereka tahu bagaimana mengendarai mobil, menyapa dalam bahasa asing, membayar makan dengan kartu kredit dan menggambarkan siapa Napoleon Bonaparte - misteri yang tidak dapat dipahami ketika seseorang hanya menghabiskan waktu bertahun - tahun melewati beberapa kali musim hujan di negeri ini.


Selain itu, seluruh pendidikan formal terasa seperti proses mengejar ketinggalan: kita diharuskan untuk mengambil informasi dan teknik yang dibangun oleh orang tua, guru, dan profesor kita selama beberapa dekade. Asumsi utama tertanam dalam benak kita yang sedang berkembang: kita tidak tahu apa yang akan kita lakukan. Tetapi mereka melakukannya.

Ketika kita mencapai usia dewasa, versi jinak dari rasa hormat instingtif kita muncul dalam kesediaan kita untuk mempercayai para ahli
Kamu ga kalah jenius dari si Alien, Mark !

Kita tidak tahu seperti apa memastikan pemasangan kuda-kuda atap rumah agar kediaman kita dapat dengan aman kita tinggali tanpa perlu khawatir atapnya tertiup angin.


Kemudian apa yang kita lakukan ? Ya, tentu saja kita akan mencari ahli yang bisa menghitung dan mempersiapkan kuda-kuda atap yang tepat menurut si ahli. Kita bersedia membayarnya untuk membangun atap rumah yang kita tinggali dan kemudian juga mengeluarkan sejumlah biaya untuk memperbaikinya ketika atap tersebut ternyata tidak sesuai dengan yang kita butuhkan. Kita memilih pasrah pada apa yang dikatakan si ahli.


Dalam berbagai masalah teknis dan ilmiah, kita menyerahkan skeptisisme kepada orang lain, tanpa memiliki kemampuan independen untuk memeriksa bukti atau menguasai seluk-beluk argumen. Mereka tahu, dan kita senang menganggap mereka harus melakukannya (kadang disertai anggapan, kita membayar mereka untuk itu, kan?).


Tetapi banyak hal yang salah dalam hidup kita dapat ditelusuri kembali ke perpanjangan bentuk penghormatan ini ke daerah-daerah di mana hal itu menghambat insting dan interpretasi akurat dari kebutuhan kita.


Hal ini juga diperburuk dengan pola kita dalam mendapatkan informasi yang dihadirkan oleh berbagai media massa ketika mereka buntu oleh deadline dan kekurangan data. Media pun menyaring kalimat - kalimat soundbite dari seseorang yang kemudian dilabeli "pakar", dan pernyataan tersebut diputar berulang - ulang. Bahkan tidak jarang, "suara" dari satu pakar dijadikan basis pijakan untuk sebuah peliputan.


Mungkin ada banyak hal di suatu tempat dalam pikiran kita, yang secara terus-menerus menganggap kita tidak logis karena menolak pemikiran "sang ahli", atau sedih tentang cara dunia saat ini berjalan. Ada saat-saat ketika kita merasa bahwa kita telah memahami suatu situasi atau membaca dilema dengan kejelasan atau kebijaksanaan yang tampaknya sangat tidak sama orang lain. Namun kita memilih untuk membiarkan waktu memberikan jawaban.


Masalah ini juga diperparah karena sistem pendidikan membuat kita merasa bahwa hal yang benar untuk dilakukan - kapan pun kita ingin memahami sesuatu - adalah dengan membaca apa yang orang lain katakan tentang topik itu. Dalam prosesnya, kita secara otomatis dan tidak sengaja menyerah pada sumber wawasan yang sama dan seringkali jauh lebih kaya, yaitu: pengalaman kita sendiri.


Jika kita ingin mengetahui sifat cinta, misalnya, mungkin tidak perlu untuk mendapatkan gelar psikolog dari kampus ternama, kita sudah memiliki informasi di kepala kita karena pernah memiliki hubungan dan jadi tahu mencintai dan dicintai pada tingkat kekayaan informasi dimana tidak ada sumber data lain yang bisa menyaingi.


Untuk memberikan penghormatan sejati yang layak kepada pikiran kita, kita mungkin perlu belajar untuk sedikit kurang menghargai pikiran orang lain, siapapun yang kita temui sebenarnya tidak lebih dari seseorang yang juga berusaha menemukan jawaban dari permasalahan mereka dan karena itu, tidak layak rasanya kita memberikan terlalu banyak perhatian kepada mereka.


Siapapun orang yang anda anggap jenius di dunia saat ini sebenarnya tidak lebih pintar dari anda. Hal ini pun sudah lama disampaikan oleh Ralph Emerson Wardo, bahwa mereka yang kita anggap jenius bukan terlahir karena bakat tetapi karena terus belajar untuk menghargai diri mereka secara berbeda dan memiliki keberanian untuk bertahan, bahkan ketika pikiran - pikiran ini tidak berpadu dengan orang kebanyakan.







64 views0 comments