Ketika Pandemi Melumpuhkan, Saatnya Pemimpin Tanpa Gelar Tampil Ke Depan

Updated: Mar 20, 2020


Dimulai dari Wuhan, virus ini membuat dunia berada dalam kepanikan di tahun 2020. Menjadi pandemi global yang belum jelas bagaimana kita bisa mengobatinya. Membuat dunia saling menyalahkan. Penerbangan di batalkan. Perbatasan di tutup. Dunia yang tidak siap, terpengarah oleh penyakit bergejala flu namun tidak bisa diobati hanya dengan minum obat flu.


Covid – 19, demikian nama yang diberikan WHO.


Baru sebatas itu yang kita ketahui. Ketika obat dan vaksin belum dapat menyembuhkan, meningkatkan imunitas yang bisa kita lakukan. Di sisi lain, para dokter dan paramedis berjibaku memberikan pelayanan. Mencoba memberikan kesempatan mereka yang tertular agar dapat terbebas dari jeratan si virus yang terlalu demokratis. Virus yang egaliter, menginfeksi siapapun tanpa peduli strata sosial ataupun status ekonomi.


Pemerintahan kacau, dokter bingung. Mayat berjatuhan, ekonomi mulai berantakan. Kita tidak sedang ingin menyalahkan Wuhan ataupun pemerintahan Tiongkok karena penyebaran virus ini ke seluruh dunia.


Sejarah seperti berulang, pandemi yang hadir berasal dari kesalahan kita, berasal dari keteledoran kita yang tidak peduli pada gejala alam. Bukankah dulu juga Spanish Flu awalnya dianggap remeh oleh kebanyakan negara di dunia. Sampai akhirnya merebak menjadi pandemi, barulah kita tersadar bahwa bahwa manusia selalu punya keterbatasan. Namun keterbatasan itu bisa didobrak ketika mau membaca lebih banyak dari pertanda yang hadir.


Cukuplah corona yang saat ini merebak ke seluruh dunia, membuat kita mengubah cara Berpikir bahwa kita cukup punya banyak kebaikan untuk menolak wabah. Sudah cukup Takabur menantang dengan kalimat seolah – olah berbagai hal mampu kita kendalikan.


Kita lupa bahwa dulu tsunami pernah datang tanpa kita sempat buat persiapan. Sekali tebas, ratusan ribu nyawa menghilang. Kemudian kita mendengar kalimat sesumbar “sebenarnya semua itu sudah pernah kami prediksikan”

Kali ini kita kembali dihadapkan pada kenyataan wabah dahsyat yang telah menyebar ke seluruh penjuru dunia.


Namun para pemimpin yang terlena malah membiarkan rakyatnya terpapar, kini kita tidak tahu berapa lama lagi kita akan terkapar berkali – kali karena perilaku meremehkan terus berulang. Masa – masa sulit akan menghadirkan pemimpin hebat. Masa – masa sulit pun akan menunjukkan siapa yang yang tak cakap.


Dunia pernah berkali – kali mengalami wabah. Namun ketika dunia sedang berantakan akibat kepanikan dan kebingungan terhadap apa yang harus kita lakukan ke depannya, inilah saat – saat terbaik kita melakukan hal produktif.

Mengedukasi diri sendiri sebelum kemudian mencoba menyampaikannya pada orang lain di sekitar kita. Menjadi pemimpin tanpa gelar.


Karena kita berada dalam persoalan ini bersama. Di saat wabah merajalela, kita harusnya dapat belajar dari berbagai sejarah umat manusia sebelumnya.

Inilah saat terbaik belajar lebih peduli tanpa perlu menghakimi, kita memang hanyalah akan dikenang sebagai sebuah nama, namun apa yang kita lakukan bersama ternyata akan berdampak besar. Butterfly effect akan terjadi. Anda dan saya yang saat ini tidak berada di garis depan melawan covid 19, sebenarnya selalu ada di garis depan. Anda dan saya selalu ada di garis depan untuk memimpin diri kita melakukan apa yang benar.


Covid – 19 menjadi ketakutan baru. Mudah melupakan berkah hidup ketika pikiran kita hanya terfokus pada satu hal. Tapi ketika kita mengalihkan pikiran kita pada berbagai kebaikan lain, harusnya covid 19 tidak lagi menjadi penyebab kita insecure.


Covid 19 masih memberi kita waktu untuk melakukan persiapan dan pencegahan. Angka kematiannya pun tidak setinggi pandemi lain yang pernah terjadi di dunia. Wabah pes membunuh 5 juta orang hanya dalam beberapa bulan di abad keenam, atau cacar yang secara konsisten membunuh sekitar 400.000 orang setiap tahun di kedelapan belas.atau ketika campak membunuh 200 juta orang pada abad kesembilan belas dan kedua puluh, atau ketika Flu Spanyol merenggut 50 juta jiwa pada tahun 1918.


Memang ada negara dengan kasus yang tinggi, tapi itu bukan berarti umat manusia akan gagal mengatasinya, karena titik terang mulai terlihat. Kita menjadi mengerti apa yang harus dilakukan dengan tepat. Dunia memang membaik, namun tantangan pastinya tidak akan berhenti hanya di fase tearatasinya covid 19.


Wabah ini mengajarkan kita untuk mampu memimpin diri kita sendiri bahkan ketika negara bingung. Wabah ini mengajarkan kita untuk mau produktif mencari hal – hal yang berkaitan dengan pencegahannya.


Ada satu kisah menarik mengenai bagaimana salah satu pemimpin besar, Nabi Muhammad SAW memberikan arahan dalam memimpin kaumnya ketika wabah menimpa.


Wabah penyakit terjadi juga di zaman Rasulullah SAW meski bukan virus corona. Wabah tersebut salah satunya kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Nabi memerintahkan tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami lepra atau leprosy.


Social distancing kini kita menyebutnya.


Nabi Muhammad SAW juga pernah memperingatkan umatnya jangan berada dekat wilayah yang sedang terkena wabah.


"Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari)


Hadist ini mirip metode karantina yang kini dilakukan di beberapa negara untuk mencegah penyebaran penyakit. Kini kita melihat sejumlah negara melakukan metode ini, namun sudah lebih kontektual dengan kondisi yang dibutuhkan.


Sekarang kita mengenalnya dengan nama lockdown.


Selain kusta, Nabi Muhammad SAW juga pernah menghadapi wabah di masa hijrah ke Madinah. Saat itu situasi Madinah dikatakan sangat buruk dengan air yang keruh dan penuh wabah penyakit. Menghadapi situasi tersebut, Nabi Muhammad SAW meminta pengikutnya untuk sabar sambil berharap pertolongan dari Allah SWT.


Apa yang diajarkan Rasulullah SAW ialah : kita tidak boleh takabur hanya pada usaha yang kita lakukan. Namun harus menempatkan Allah di tempat yang utama.

Selain di masa Rasulullah, kisah wabah penyakit juga ada di masa khalifah Umar bin Khattab. Dalam hadist diceritakan, Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam saat kabar wabah penyakit diterimanya dalam perjalanan.


Hadist yang dinarasikan Abdullah bin 'Amir mengatakan, Umar kemudian tidak melanjutkan perjalanan.


Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata, "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhori).


Dalam hadist yang juga diceritakan Abdullah bin Abbas dan diriwayatkan Imam Malik bin Anas, keputusan Umar sempat disangsikan Abu Ubaidah bin Jarrah. Dia adalah pemimpin rombongan yang dibawa Khalifah Umar.


Menurut Abu Ubaidah, Umar tak seharusnya kembali karena bertentangan dengan perintah Allah SWT. Umar menjawab dia tidak melarikan diri dari ketentuan Allah SWT, namun menuju ketentuanNya yang lain. Jawaban Abdurrahman bin Auf ikut menguatkan keputusan khalifah tidak melanjutkan perjalanan karena wabah penyakit.


Kisah kepemimpinan lain dalam menghadapi wabah, juga pernah dialami oleh Kaisar Romawi, Marcus Aurelius. Aurelius layak dipelajari oleh siapa pun dalam posisi kepemimpinan mana pun. Dia mencari dan membawa yang terbaik. Dia mengisi stafnya dengan bakat, bukan bangsawan, kroni, ataupun hanya yang memiliki politik sejalan.


Dia benar-benar mendengarkan saran. Dia memberdayakan orang untuk membuat keputusan. Dia mempekerjakan Galen, dokter paling terkenal dan polymath dari zaman kuno, untuk memimpin kuliah medis dan demonstrasi anatomi, ingin mengangkat "nada intelektual" dari istananya. Galen yang Aurelius berdayakan untuk memimpin upaya memerangi wabah, merupakan dokter dengan pikiran medis paling cerdas di masanya.


Setelah timnya kesehatan – kemanusiannya berada di tempat, Marcus mengalihkan fokusnya ke krisis ekonomi yang berkembang. Utang lama yang terhutang kepada pemerintah dibatalkan. Upaya penggalangan dana dimulai dengan menunjukkan kepemimpinan inspirasional.


Seperti yang ditulis oleh McLynn, Marcus melakukan penjualan saham dan harta kekaisaran selama dua bulan, tidak hanya furnitur mewah dari apartemen kekaisaran, piala emas, bendera perak, kristal dan lampu gantung, tetapi juga pakaian istrinya yang bersulam sutra, dan perhiasannya.


Pemakaman untuk korban wabah dibayar oleh negara kekaisaran. Dengan enggan tetapi tidak terhindarkan, Marcus Aurelius juga menyita modal dari kelas atas Roma, karena mengetahui mereka memiliki kehidupan lebih baik daripada masyarakat kelas bawah yang menderita wabah. Dia juga mengaudit pejabatnya sendiri dan tidak mengizinkan pengeluaran tanpa persetujuan. Dalam suatu krisis, orang harus percaya bahwa pemimpin mereka melakukan hal yang benar dan bahwa mereka memikul beban yang sama dengan warga negara — jika bukan yang lebih besar.


Akan sulit untuk melebih-lebihkan rasa takut yang pasti telah merasuki kekaisaran. Jalan-jalan Roma dibanjiri mayat. Bahaya tergantung di udara dan mengintai di setiap sudut. Rasa takut menyebar dengan cepat. Tentu saja, tidak ada yang akan menyalahkan Marcus jika ia melarikan diri dari Roma. Kebanyakan orang mampu.


Sebaliknya, Marcus tetap, dengan biaya pribadi yang sangat besar. Dia berani menghadapi wabah paling mematikan dalam sejarah 900 tahun Roma, tidak pernah menunjukkan rasa takut, meyakinkan rakyatnya dengan kehadirannya.


Di sinilah masa lalu memberikan pelajaran yang paling kuat dan menenangkan. Terlalu sering, peradaban pertama kali menyadari betapa rapuhnya mereka ketika mereka mengetahui bahwa mereka telah ditaklukkan, atau berada di bawah belas kasihan dari beberapa tiran yang kejam, atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Ketika seseorang yang terkenal — seperti Menteri Perhubungan atau Tom Hanks — jatuh sakit, baru mereka menjadi serius.


Itulah sebabnya kita harus menggunakan krisis yang mengerikan ini sebagai kesempatan untuk belajar, untuk mengingat kebajikan-kebajikan inti yang coba dijalani para pemimpin di masa lalu :
Kerendahan hati. Kebaikan. Waspada. Kebijaksanaan. Melayani.

Bahkan jika kita sekarang mungkin kekurangan jenis kepemimpinan yang dapat menunjukkan kepada kita jalan melalui teladan — kita dapat beralih ke masa lalu untuk memberi tahu kita seperti apa kepemimpinan itu dan untuk mengajarkan kita tentang semua hal yang harus kita hargai.


Saat ini, izinkan saya memanggil kalian dengan panggilan “pemimpin mandiri tak bersemat gelar”


Terima kasih sudah terus mau melakukan hal produktif dalam meningkatkan awareness kita tentang wabah ini.

35 views0 comments