Berbagai Alasan Kenapa Kamu Harus Lebih Mengendalikan Egomu

Updated: Mar 24

Pernahkah seseorang berteriak di depan mukamu karena begitu marah pada tingkah yang kamu lakukan ?

Kemudian kamu juga ingin kembali berteriak di depan wajahnya, namun tidak jadi kamu lakukan karena kamu tahu itu bukanlah hal yang tepat sehingga kamu mencoba menahan amarah itu di dalam dadamu sampai terasa begitu sesak. Hingga tubuhmu melakukan reaksi aneh, yang membuat kaki hingga tanganmu seperti kehilangan darah tapi dadamu begitu terbakar ?



Mungkin tidak semua reaksi yang saya deskripsikan di atas secara persis kamu rasakan, karena kamu justru juga kembali membalas kemarahan orang tersebut dengan energi yang sama.


Banyak yang berkata bahwa marah itu sehat, dan tidak jarang pula kamu mendapatkan masukan : balaslah kemarahan dengan kemarahan yang lain. Dalam artian, jika seseorang membentak, maka kita pun harus balik membentak. Karena di kehidupan sosial saat ini, pembentaklah yang (terlihat) memenangkan sebuah perselisihan. Benarkah demikian ?


Kenapa Marah Didefinisikan Sebagai Power ?


Ketika kita masih kanak – kanak, dan kemudian mengalami perselisihan dengan seorang yang lebih tua baik karena kenakalan atau tingkah kita yang dianggap menyinggung oleh orang tersebut maka kemudian yang kerap kita dapati ialah suatu kemarahan. Ketika marah tersebut muncul, diri kita yang masih kanak – kanak tersebut akan merasakan ketakutan.


kini bisakah marah memunculkan kekuatan super ?

Kemampuan menciptakan rasa takut itu kemudian kita anggap sebagai salah satu kekuatan yang diberikan oleh orang yang marah. Persis seperti film kartun yang juga kerap ditayangkan ketika kita kanak – kanak dimana sosok saiya super yang kemudian menjadi begitu powerful setelah mengalami kemarahan dan bisa menghajar habis – habisan semua yang membuatnya marah.


Konyolnya khayalan tentang marah sebagai pembangkit “kekuatan rahasia” menjadikan hal ini semakin banyak kita lihat dan alami. Bahkan tidak menutup kemungkinan kamu juga menganggap marah yang meledak – ledak adalah sesuatu yang wajar dilakukan ketika seseorang menyinggung perasaanmu. Ketahuilah selama hidup manusia masih saling membutuhkan satu sama lain, sangat sulit menghindar dari berbagai perasaan kecewa, sedih, kesal, dan bahkan marah.


Menyenangkan sekali seandainya seluruh manusia lain di dunia ini dapat mengikuti apapun yang kita inginkan atau harapkan mereka lakukan. Namun kenyataannya selama masih ada milyaran umat manusia di dunia maka ada milyaran penyebab pula yang akan memunculkan berbagai perasaan marah di dalam diri kita.



Ego Sebagai Dinamo Kemarahan


Ego ialah perspektif pribadi yang kita ciptakan berdasarkan identitas yang ingin kita bangun atas diri kita sendiri. Ego ialah hal yang kerap kita ceritakan dan persepsikan mengenai diri kita.


Ini ditentukan oleh pendidikan, hubungan sosial, pengalaman pribadi, cara kita dididik, dan keinginan individual. Namun ini semua bukanlah diri kita. Ini semua hanyalah persepsi yang kita tanamkan pada diri kita.


Di dalam diri kita ada dua pihak yang kerap berbicara untuk memutuskan sikap yang akan kita ambil. Mereka adalah ego dan hati nurani. Ego ialah pihak yang selalu ingin memenangkan dirinya tiap kali dia tersinggung atau direndahkan. Ego ialah pihak yang selalu menginginkan diri kita berada di atas yang lain karena keinginannya ialah superioritas. Ego ialah penyebab kenapa kita marah tapi tidak dengan cara yang seharusnya dalam menunjukkan kemarahan tersebut. Karena ego senang mendapatkan tempat istimewa.


Ego senang dimenangkan, ia suka dilukai dan mudah tersinggung. Di sinilah kenapa kita harus lebih aware kenapa kita tersinggung dan bagaimana cara kita bereaksi. Ketika emosi negatif hadir, kamu selalu punya dua cara bereaksi. Memunculkan konflik atau justru mencari solusi. Ketika seseorang mengemukakan atau melakukan sesuatu yang membuatmu tersinggung kamu dapat mengubah cara berpikirmu menjadi : sikap yang dia tunjukkan ini didasari ego mereka untuk menguasai keadaan. Ini merupakan proyeksi ego mereka sendiri.


Akan selalu benar berpikir seperti ini, karena menurut Alfred Adler, tingkah alami manusia ialah untuk superioritas. Di saat inilah kamu kamu harus menyimpan energimu dari pertikaian ego. Marah yang muncul dari ego mudah diidentifikasi ketika kita mengetahuinya. Tiap kali dirimu merasakan napasmu sudah memburu, denyut nadi meningkat, dan rasanya ingin meledak, di saat inilah kamu harus sadar bahwa ego sudah mulai mencoba mengendalikan dirimu.


Tetapi kamu selalu punya caranya untuk mengendalikan rasa marah dari ego tersebut, misalnya dengan mencoba menganggukkan kepalamu terlebih dahulu selama tiga kali, atau justru berbalik dari orang yang mencoba memancing kemarahanmu dan bernapas dalam – dalam.


Ego Hidup Dengan Perasaan Mudah Tersinggung


Ego bukan hanya menyebabkan kemarahan pada diri kita. Ego yang tidak disadari juga mempengaruhi perasaan untuk menang sendiri, ingin diistimewakan, ingin dipuji, dan mendapatkan validitas bahwa kita memang sosok yang layak untuk dihargai. Karena ia tidak pernah suka tersinggung. Ia tidak pernah suka diremehkan. Ego bisa semakin kuat setiap mendapatkan makanan dari hal – hal tersebut.


Dunia memang sudah dipenuhi oleh ego yang begitu kuat. Berbicara mengenai mengendalikan ego rasanya akan langsung dicap naif oleh mereka yang sudah terlalu lama mempersepsikan hidup ialah serangkaian pemenuhan ego. Akan mudah mengarahkan jari pada mereka yang kemudian berhasil mencapai keinginannya karena pernah merugikan kita, dan kemudian menyalahkan diri sendiri karena kita tidak pernah mampu menjadi orang yang lebih tegaan dalam menyakiti orang lain.


Pahamilah perasaan menyalahkan diri sendiri juga merupakan ego yang tidak kita sadari. Perasaan ini yang lambat laun mengonsumsi diri kita dan membuat kita selalu terjebak pada situasi yang buruk.

Hilangkan perasaan tersinggung tersebut dengan memaafkan dirimu dan orang tersebut. Memaafkan bukan berarti kamu harus kembali menjadikan dirimu “diperalat” oleh orang tersebut. Memaafkan dirimu berarti kamu akan menjadi lebih aware mengenai sikap dan keputusan yang akan kamu ambil ke depannya.


Mungkinkah Bisa Sukses Jangka Panjang Dengan Tanpa Ego ?


Pertanyaan seperti ini juga kerap muncul di dalam diri saya, tiap kali saya merasa dimanfaatkan oleh orang lain atau dirugikan. Ketika saya melihat orang – orang yang pernah merugikan saya tersebut justru semakin jauh meninggalkan saya dengan kesuksesan yang terlihat dari luar, saya juga dulu selalu merasa itu semua karena kecerobohan saya untuk sangat mempercayai orang – orang tersebut.


Tapi kepercayaan tidak selalu menjadi isu ketika kita dirugikan. Informasi berharga yang kita berikan, koneksi berharga yang kita bagikan juga dapat menjadi blunder dalam pencapaian yang kita inginkan.


Aksi predator manusia dalam kehidupan modern saya rasakan semakin sulit dihindari, namun semua itu berubah ketika saya berusaha untuk mengubah persepsi terhadap hal tersebut setelah saya mendalami banyak kisah kesuksesan yang justru tidak pernah dibesar – besarkan media. Kesuksesan jangka panjang yang tidak muncul dari mereka yang kita persepsikan sebagai manusia paling sukses.


Copyright : Gramedia

Ketika saya membaca buku Eric Barker : Mendaki Tangga Yang Salah, saya sampai pada satu hasil riset Adam Grant yang dijadikan dasar riset Eric mengenai mereka yang baik tidak selalu berakhir paling akhir. Riset Adam Grant, profesor terkemuka dari Wharton, menemukan, orang yang memberi (giver) berada di level atas dari tangga kesuksesan.


Giver selalu menginginkan memberi lebih banyak ke orang lain dibanding yang mereka dapat, “give more than they get”. Kalau Taker selalu self-focused, Giver justru other-focused.


Mereka lebih fokus memberikan kontribusi dan manfaat kepada orang lain ketimbang mendapatkan sesuatu dari orang lain.


Kenikmatan hidup seorang Giver didapat ketika mereka bisa memberikan waktu, tenaga, uang, atau ilmu kepada orang lain tanpa berharap mendapat imbalan.


Inilah yang dapat anda lakukan tiap kali ada seseorang atau sesuatu yang memicu kemarahan. Berikan orang – orang tersebut pemahaman tanpa harus ikut terlibat dalam pertikaian ego. Tidak mudah dalam mengendalikan ego ketika direndahkan. Tapi kita selalu bisa memilih melakukan yang benar atas diri kita, karena itulah satu – satunya hal yang bisa kit kendalikan.


Haruskah Sepenuhnya Menghilangkan Ego ?


Ego dan hati nurani ialah dua hal yang membuat manusia berbeda dari hewan. Kedua hal ini yang membuat kita memiliki ambisi sekaligus pengendali. Menghilangkan ego bukanlah hal yang ingin saya anjurkan bagi anda. Karena kita semua memiliki identitas dan tujuan hidup yang berbeda.


Menjadi seorang other – focused sebenarnya tidak selalu menjadikan kita berada pada level kesuksesan paling tinggi. Karena penelitian Grant juga menemukan fakta bahwa para “orang baik” (giver) juga bisa berada level kesuksesan paling bawah.


Yang membedakan adalah batasan.


Giver yang sukses mempunyai batasan sehingga membantu orang lain tidak menghambat pertumbuhan mereka. Seratus jam per tahun tampaknya menjadi batasan untuk memberi yang diajukan Grant. Jadi kita pada dasarnya dapat memilih kapan kita harus “sedikit memenangkan” diri kita atas kepentingan orang lain, dan kapan harus memberikan “kemenangan” kepada orang lain. Namun kita tidak perlu merasa ego kita tercoreng ketika melihat kemajuan orang lain, karena kehidupan ini bukanlah zero-sum game.


Bukti sudah banyak menunjukkan masuk Forbes 30 before 30 pun tidak menjamin kesuksesan setelah usia 40 tahun. Terkenal dan kaya di usia 40 tahun pun tidak menjadi penyebab akan hidup berumur panjang.

Kemenangan orang lain bukan berarti kekalahan kita. Jangan pernah pikirkan apa yang dilakukan orang lain, tetapi khawatirkan apa yang kita lakukan.

264 views0 comments

Recent Posts

See All