Benarkah Spesialisasi Lebih Menunjang Kesuksesan Jangka Panjang Anda ?

Updated: Feb 29, 2020

Apakah menjadi spesialis sedini mungkin masih menjadi pilihan tepat untuk sukses saat ini ?

Benarkah menjadi seorang generalis ialah satu jebakan yang membuat kita "stuck" ?

Apakah 10.000 jam (10 tahun) melakukan hal berulang - ulang masih menjadi jawaban agar sukses ?


Ini adalah sejumlah pertanyaan yang kerap saya pertanyakan pada diri saya (mungkin juga kerap kamu pertanyakan pada dirimu juga), selama 10 tahun terakhir. Walaupun saya belum memiliki jawabannya, tapi apa yang saya lakukan ialah saya tidak terlalu tertarik dengan spesialisasi sedini mungkin, dan memutuskan mencoba begitu banyak hal yang menarik minat saya.


Teori lama mengatakan bahwa untuk menjadi jenius seperti Beethoven, The Beatles, Bill Gates, atau Tiger Wood kita harus memulai dari dini, fokus di bidang yang kita geluti, dan kemudian melatihnya siang-malam terus-menerus selama bertahun-tahun. Itu sebabnya hukum “berlatih 10.000 jam” menjadi demikian populer.


Saya sendiri merupakan seorang Klasik – Generalist. Dalam artian, hingga usia 28 tahun saya pun begitu suka melakukan berbagai hal yang menantang saya untuk terus belajar berbagai skill dan pengalaman baru. Profesi saya sebelumnya di pertelevisian pun bukanlah tanpa proses penuh kebingungan mengenai spesialisasi apa yang harus saya miliki.


Namun saya selalu kembali pada jawaban, bahwa saya tidak terspesialisasi sedini mungkin karena saya membutuhkan lebih banyak pengalaman dan ingin mengeksplor lebih banyak potensi diri. Berpindah pilihan pekerjaan demi karir yang saya inginkan selalu menjadi hal yang menakutkan di awal, tapi kemudian itu membuka cara berpikir baru. Ketika saya menjadi seorang jurnalis, pengalaman saya saat menjadi seorang Business Development TV di kantor sebelumnya menunjang cara saya berpikir untuk menciptakan liputan yang berhasil secara rating dan share.


Ketika saya melompat lagi menjadi seorang entrepreneur dan juga membangun sebuah aplikasi smartphone, saya pun tidak ragu untuk belajar ui/ux dan workflow mengenai apa saja yang harus dipersiapkan hingga aplikasi tersebut dapat dijalankan. (kita akan bercerita mengenai hal tersebut di lain kesempatan)


Saya sempat ragu dengan pilihan ini, dan kerap kali suara batin saya menyampaikan bahwa saya seorang pembosan yang kerap melakukan sesuatu baru untuk kemudian berpindah ke hal lainnya. Tapi saya kerap menepis anggapan tersebut karena saya selalu melakukan hal baru tersebut setidaknya dua tahun, sebelum mencoba hal lain.


Di pertengahan 2019, kekhawatiran saya mengenai seorang generalist akan tertinggal dibandingkan mereka yang sudah memiliki spesialisasi sejak dini, terpatahkan oleh sebuah buku yang ditulis David Epstein yang dilengkapi berbagai bantahan mengenai teori lama penguasaan 10.000 jam.


David jelas jelas membantah pendapat spesialisai dini ialah pangkal kesuksesan besar. Fokus dan spesialisasi sejak dini seperti yang dijalani Tiger Wood adalah perkecualian, bukan hukum yang berlaku umum.


Beda dengan Tiger, Roger Federer justru gonta-ganti jenis olahraga yang digeluti dan lambat mengambil bidang spesialisasi tenis (late specialization).


Di sisi lain, kita juga berada di masyarakat yang sangat menekankan pentingnya focus sedini mungkin melalui kuliah pasca sarjana, doctoral, dan bertahan di sebuah karir jangka panjang demi hidup yang stabil dan diidentifikasi sebagai sebuah “kesuksesan”



Generalis Bisa Unggul Di Dunia Yang Menginginkan Pengkhususan Bidang


Di era yang connected dan kian unpredictable, generalis (mazhab “Roger Federer”) lebih kontekstual dan lebih ampuh dari spesialis (mazhab “Tiger Wood”).


Wait, mungkin kamu berpikiran contoh yang saya sampaikan tidak kontekstual dengan kebudayaan Asia? Baik mari kita lihat contoh lain dari perjalanan Gunpei Yokoi selama menjadi Perancang Game Nintendo.


Ketika Yokoi diperkerjakan oleh Nintendo pada tahun 1965, perusahaan itu belumlah menjadi sebuah perusahaan teknologi. Nintendo hanya dikenal sebagai sebuah perusahaan kecil di Kyoto, yang memproduksi kartu permainan. Pekerjaan Yokoi saat itu ialah melakukan pemeliharaan mesin pembuatan kartu.


Inovasinya yang tidak menyerah dan mencoba melakukan banyak hal yang kemudian menghantarkannya pada kesuksesan menghasilkan Game Boy yang terjual 118,7 juta unit , menjadi benda terlaris di abad kedua puluh.


Apakah Yokoi memiliki kemampuan terspesialisasi ? Yokoi menjawabnya :


“Saya tidak memiliki keterampilan khusus tertentu. Saya memiliki sejenis pengetahuan samar dari segala sesuatu”


Namun apa yang dilakukan Yokoi, ia berusaha mengerjakan ide nya bersama para insinyurnya yang sudah sangat terspesialisasi. Boleh jadi awalnya para insinyurnya akan menganggap Yokoi “idiot” dengan tidak adanya spesialisasi teknis pada dirinya. Tapi begitu ia berhasil menciptakan produk yang sukses, sepertinya kata “idiot” itu pun menyelinap entah ke mana.


Sebagaimana layaknya doktrin hidup yang sering kita terima, bahwa hidup itu haruslah seperti rangkaian garis lurus : bayi, kanak – kanak, sekolah, kuliah, cari pacar, kerja, nikah, menua, merawat cucu, ibadah lebih rajin, dan meratap tembok merasakan penyesalan pada banyaknya hal yang mungkin memperkaya pengalaman namun kita tidak mengambilnya dengan ketakutan tertinggal pada perjalanan dibandingkan teman – teman yang lebih awal terlihat memiliki hasil.

Seperti inilah lukisan kesuksesan di dalam masyarakat. Tidak ada jalan berputar. Ini yang membuat kita sering merasa harus tetap di jalan yang kita mulai dari awal.
Pandangan Masyarakat Umum Tentang Sukses. Seperti inilah lukisan kesuksesan di dalam masyarakat. Tidak ada jalan berputar. Ini yang membuat kita sering merasa harus tetap di jalan yang kita mulai dari awal.

Doktrin yang muncul bertahun – tahun dari begitu obsesinya pada hasil yang cepat, sehingga berbagai “cara cepat linear” bermunculan hanya sebatas untuk menjawab soal yang kemudian diaplikasikan menjawab persoalan kehidupan yang tidak selurus “carcep” tersebut.


Doktrin Cara Cepat “di atas garis lurus” tersebut memang banyak disukai karena merupakan resep yang rapi, lebih pasti, dan sangat efisien. Bagaimanapun, siapa yang tidak suka awal yang lebih maju? Eksperimentasi bukanlah resep yang rapi dan membutuhkan lebih dari sekedar kata kata manis motivasional untuk mentoleransi kegagalan.


Itulah kenapa doktrin menjadi spesialis sedini mungkin terdengar begitu nyaring. Padahal ada begitu banyak di luar sana mereka yang hyperspecialized kemudian bingung akan arah hidupnya karena merasa belum menemukan siapa diri mereka sesungguhnya.


Bagi kamu yang saat ini tidak tahu akan mengarah kemana ? Satu nasehat dari saya. Jangan pernah merasa tertinggal. Karena kamu tidak tahu persis kemana kamu akan menuju. Jadi merasa tertinggal sama sekali tidak membantu. Itu hanya akan membuat kamu berhenti untuk proaktif dan membuka diri untuk menyapa berbagai kemungkinan dari diri kamu.


Proaktiflah untuk bereksperimen pada dirimu. Alih – alih berusaha menjadi ahli di bidang yang sebenarnya belum tentu kita pakai seumur hidup, lebih baik jadilah peneliti terbaik bagi dirimu sendiri. Bersedialah terus "berkencan" dengan proyekmu sendiri dan selalu bersiap untuk kembali mengambil jalan memutar, berbelok, menyesuaikan sambil berjalan, bahkan berganti arah jika memang diperlukan. Ingatlah itu semua tidak akan sia – sia.


Jangan terburu – buru menganggap sudah mengenal diri kita dan kemudian menetapkan bahwa harus sesegera mungkin memperkecil fokus. Karena pada dasarnya kita adalah pekerjaan yang masih berlanjut, tapi mengaku sudah selesai.

Proses pengembangan kepribadian sendiri tidak dapat selesai dengan cepat, dan ini membutuhkan kesediaan kita untuk mau belajar lebih banyak dan mencoba berbagai hal untuk akhirnya memutuskan apa yang paling sesuai.


Pada akhirnya memang, kita akan memilih akan fokus di bidang apa karena tidak mungkin selamanya kita terus mencari apa yang kita inginkan dan tidak mengenal apa yang benar – benar dapat menjadi kemampuan kita yang paling luar biasa.


Jadi jika saat ini kamu merasa masih tidak tahu kemana hidup akan membawamu dalam lima tahun lagi, jangan berkecil hati. Lakukan sebanyak mungkin hal yang menarik bagimu sampai kamu kemudian menemukan “anugerah” terbesar yang sudah dititipkan Sang Pencipta padamu.


Jangan takut menjadi seorang generalist, karena menjadi generalis akan membuatmu multi pengalaman, lebih holistik, lebih kreatif, lebih agile, dan lebih bisa berkoneksi dengan orang lain; kualitas yang lebih diperlukan di era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity).


68 views0 comments