Bosan Itu Baik, Jika Kamu Melakukannya Dengan Benar. Berikut Alasannya.

Updated: Mar 5


Ketika pandemi melanda dan anjuran berada di rumah saja diberlakukan, saya baru menyadari betapa rasa bosan begitu baik bagi saya. Karena tidak bisa bepergian, bahkan mudikpun tidak (telat karena kebijakan baru penerbangan), akhirnya saya memutuskan untuk membaca ulang koleksi buku saya, termasuk e-book yang sudah saya download.


Saya tertuju pada satu buku koleksi saya yang ditulis Austin Kleon, Steal Like An Artist. Austin menjelaskan di salah satu tulisannya mengenai manfaat rasa bosan. Jika kita sebagai orang awam kerap mencari cara untuk mengusir kebosanan, para seniman, justru kerap menunggu rasa bosan untuk menghasilkan karya.


Seorang innovator paling dikenang di era modern, Steve Jobs pun sempat menyatakan sesuatu yang baik tentang rasa bosan.


“I’m a big believer in boredom. Boredom allows one to indulge in curiosity, and out of curiosity comes everything.”


Kesalahan Kita Dalam Menangani Kebosanan


Kebiasaan manusia modern yang selalu lengket dengan gadget, menjadi penghambat dalam menemukan sesuatu yang baru ketika kebosanan melanda. Kita selalu mudah menggapai cara membunuh kebosanan hanya dari jentikan cari. Entah itu dari foto – foto estetik para influencer yang kita follow, bermain game, binge watching drama dari aplikasi yang sudah terunduh di ponsel, atau dari video kucing yang mempertunjukkan kemampuan silatnya.





Mudah mendapatkan semua escapism itu dari sosial media dan gadget, padahal tanpa kita sadari sebenarnya itu melelahkan otak. Sekaligus juga melenyapkan kesempatan munculnya ide kreatif – berkualitas.


Solusi jangka pendek yang kerap kita lakukan justru membuat kita semakin takut berada dalam kebosanan yang panjang karena kita akan terus membutuhkan ransangan yang lebih intens untuk melawan kebosanan tersebut. Ini dapat terlihat dengan mudah dari durasi kita scrolling di sosial media misalnya, atau dari lamanya kita bermain video game sampai meninggalkan tanggung jawab lainnya.


Kenapa Kita Membutuhkan Kebosanan ?


Urusan kesehatan mental sudah bukan lagi hal yang bisa di tawar saat ini.

Di era informasi ini, otak kita dipenuhi dengan informasi dan gangguan.


Flooded information and tons of distractions!


Kekayaan informasi berarti kelangkaan perhatian. Sementara perhatian menggunakan sumber daya kognitif yang terbatas untuk aktivitas produktif. Ini artinya, terlalu banyak memberikan perhatian pada rangsangan eksternal dari informasi yang melimpah dan tidak penting, membuat otak kita lelah.


Jadi, istirahat bisa menjadi kesempatan berharga untuk membantu otak kita yang kelebihan beban untuk rileks dan mengurangi stres. Itulah kenapa sebaiknya setiap kali berada dalam fase bosan jangan berusaha untuk mengecek sosial media ataupun bermain game.


Memunculkan Kreativitas

Ketika membiarkan pemikiran untuk berkelana dan melamun, kita memberikan kesempatan untuk memunculkan berbagai macam ide yang berbeda dari sebelumnya.


Inilah kenapa Austin Kleon pun pernah menyarankan jika sedang membutuhkan inspirasi maka lakukan hal yang membosankan seperti memandang sebuah titik di dinding.




Namun untuk kamu yang tidak membutuhkan kreativitas atau ide baru, mungkin hal ini tidak akan berarti.


Menemukan Tujuan

Ketika merasa berada di tempat yang salah, kita sering mengalami kebosanan. Ini seperti sinyal bahwa kita tidak hanya berada pada situasi yang tidak menarik atau tidak menantang tetapi juga dalam situasi perasaan gagal memenuhi harapan dan keinginan kita.


Daripada segera mencari pelampiasan dari kebosanan yang kita alami, lebih baik kita mencoba menikmatinya. Berkontemplasi, dan menggunakan kesempatan yang diberikan kebosanan untuk menemukan jawaban dari apa yang benar – benar kita inginkan di dalam hidup ini.


Bagaimana Memperlakukan Kebosanan Dengan Tepat ?


Bosan tidak harus selalu dilawan dengan hiburan. Bosan lebih sering merupakan sinyal bahwa kita sedang tidak mengerjakan apa yang ingin kita kerjakan. Inilah kenapa ketika bosan melanda kita harus berupaya untuk menikmatinya sampai kemudian kita tahu apa yang harus kita lakukan.


Seorang peneliti asal Inggris, Sandi Mann dari Universitas Central Lancashire pernah memaparkan hal ini melalui jurnal penelitiannya.


Ia menuliskan, bahwa bosan tidak perlu dilawan dengan aktivitas seperti yoga, meditasi, atau mendegarkan musik dengan tujuan memunculkan inspirasi, karena semua hal itu kontraproduktif.


Untuk masuk ke fase bosan, seseorang harus melakukan hal yang membutuhkan konsentrasi rendah seperti berjalan kaki di rute yang sama, lap swimming, atau sekedar duduk dan memejamkan mata membiarkan pikiran menjelajah tanpa menggunakan stimulasi musik.


Jadi, sudah lebih mengerti kan kenapa kita butuh menikmati rasa bosan ?


Recent Posts

See All