Agar Anda Berhenti Berkata “Hmmm Apa Namanya” Ketika Berbicara di Depan Umum

Updated: Jan 30, 2020

Ada kebiasaan yang kerap dilakukan para pembicara publik dimana sering menggunakan frasa yang tidak dibutuhkan. Hal ini sering sekali menjadi blunder bagi sang pembicara dan membuat kita sebagai pendengar meragukan kredibilitasnya dalam berbicara.



Saya mengamati sebagian besar tayangan berita 📺, dan ternyata ada dua kata yang semakin sering terdengar diucapkan oleh para reporter, news anchor, ataupun presenter. (silahkan google apa perbedaan di antara ketiganya).


Berdasarkan pengamatan saya, ada dua frasa yang paling sering digunakan. 

Frasa Pertama : “Hmm, Apa Namanya….”

Frasa ini biasanya muncul ketika seorang pembicara sedang melakukan chit - chat, elaborasi, ataupun terpaksa menambahkan komentar karena kebutuhan show. Biasanya karena durasi ataupun menunggu kehadiran narasumber. Ya terkadang juga seenak jidat ego pemangku program menurut saya. ✌️ !

Saya tidak tahu kapan pastinya frasa ini menjadi tren di kalangan broadcaster, namun frasa seperti ini terdengar canggung dan tak meyakinkan. Dan efeknya lebih buruk lagi, mereka yang sering menggunakannya akan dinilai tidak pandai berbicara dan dilihat kurang kompeten.

“Saat Anda menggunakan (kata-kata pengisi) secara berulang dan berlebihan, maka muncul persepsi bahwa Anda tak siap,” kata Paula Statman, pelatih kemampuan berbicara dari Oakland, California.

Tapi menurut Bu Paula sebagian besar orang tak menyadari kecenderungan mereka untuk berbicara dengan kata-kata pengisi dan bahwa itu mengurangi nilai komunikasi mereka.

Bu, dengan segala kerendahan hati saya menyadari sering sekali mengeluarkan frasa seperti itu khususnya saat kondisi tidak siap.

Frasa Kedua : “Ummm, kayak begituuu…” Banyak orang tak mengenali bahwa kata-kata yang mereka gunakan adalah pengisi dan harus dihilangkan dari kalimat. Meski banyak orang sudah cukup tahu untuk tidak mengatakan “umm”, hanya sedikit orang yang mengetahui bahwa mengatakan “benar nggak” atau “iya kan” di akhir kalimat juga sebenarnya tidak perlu.

 

Dari beberapa kondisi yang saya alami, frasa - frasa tersebut keluar dari mulut saya biasanya karena sedang berpikir keras. Akibat mengonsumsi RAM otak yang begitu banyak (faktor berpikir keras karena minimnya materi yang saya riset untuk disampaikan), secara tidak sadar frasa tersebut mengalir tanpa terkendali.


Ini seperti respon otak untuk mencari ungkapan ataupun kata pengisi jeda ketika bagian otak yang lain lagi berpikir keras.

Bisakah ini diatasi ?

Bertahu - tahun berkecimpung di dunia broadcasting, saya berlatih untuk menghilangkan kebiasaan tersebut, dan ternyata hal ini bisa diatasi. Kamu juga dapat mulai berlatih untuk menghilangkan kebiasaan ini.

1. Rekam dan Perhatikan Kembali Caramu Berbicara

Ini merupakan metode yang mengharuskan kamu jujur dalam menilai dirimu sendiri. Jika kamu berbicara selama satu menit, berapa kali kamu mengeluarkan frasa- frasa tidak penting untuk mengisi jeda waktu berpikirmu.

Catat semuanya dan rasakan “kejijikan” pada cara bicaramu itu. Ingat kita tidak bisa mengubah apa yang tidak kita ketahui.

2. Cerna dan Kunyah Terlebih Dahulu Informasi Yang Akan Kamu Sampaikan

Saya memperhatikan para pemula di ranah public speaking dan juga penyakit mereka yang sudah senior ialah malas untuk melakukan riset dan mencerna terlebih dahulu informasi yang ingin mereka sampaikan.

Fatalnya lagi ialah mereka tetap menyampaikan namun tidak yakin dengan kebenaran dan akurasi informasi tersebut sehingga secara tidak sadar juga akan menggunakan frasa yang tidak diperlukan. Ketika kamu mencerna terlebih dahulu informasi yang ingin kamu sampaikan dan membuat plan bagaimana pemilihan kalimat yang akan kamu gunakan, frasa - frasa tidak perlu itu akan menghilang karena kamu akan fokus untuk menjaga ritme dan rima bicaramu.

3. Lakukan Kontak Mata

Saya menyarankan kamu agar lebih berani menatap lawan bicaramu. Terlebih saat kamu sudah mulai akan mengeluarkan frasa - frasa tidak diperlukan itu, usahkanlah untuk menatap lawan bicaramu. Percayalah saat itu secara tidak sadar kamu akan melakukan jeda berbicara karena berharap lawan bicaramu tidak meragukan apa yang kamu sampaikan. 

4. Mastering Blank Space


Butuh spasi untuk membuat kalimat. Butuh jeda untuk memahami rasa. Kedua ungkapan ini menunjukkan bahwa kekosongan justru terkadang harus dibiarkan tanpa perlu diisi. Rencanakan lah kapan kamu harus berhenti, diam dan menatap audiencemu. Jika memang anda seorang yang berbicara di depan kamera secara live, mastering blank space memang agak tidak tepat dilakukan, apalagi jika kamu diam terlalu lama dan hanya menatap kamera.

Namun berlatihlah untuk hanya terdiam kurang dari 3 detik, dan kembalilah berbicara.Saya yakin empat hal ini tidak serta merta dapat kamu kuasai hanya dalam waktu sehari setelah membacanya. Karena sebagian besar dari kita sudah merasa terlalu nyaman dengan gaya dan cara kita berbicara sehingga tidak merasa butuh mengubahnya.

Jujur pada diri sendiri menjadi awal mula kita dapat memperbaiki diri. Jujurlah pada seberapa ingin kamu menjadi pembicara yang lebih baik lagi ke depannya. Karena semuanya tidak akan membaik tanpa motivasi yang cukup. 

Jujurlah juga pada seberapa banyak kamu mempersiapkan diri sebelum memulai berbicara di depan umum. Ingat satu ungkapan terkenal dari ksatria Sparta. 

“Mereka yang berkeringat paling banyak ketika berlatih adalah mereka yang paling sedikit berdarah ketika bertempur”
47 views0 comments