5 Hal Yang Secara Tidak Langsung Kamu Pelajari Ketika Bersekolah

Updated: Mar 13, 2020

Ketika menuliskan artikel ini, saya teringat sebuah momen saat sedang ngopi dengan teman SMA. Saya mengajukan pertanyaan yang selama ini tidak pernah kami bahas dan mungkin saja pertanyaan ini tidak disukai olehnya.


"Bro, dulu kenapa lo milih DO dari SMA kita ?", saya bertanya.


Si Bro menjawab, "Karena labeling"


"Gimana maksudnya ? Labeling apa?", tanya saya lagi.


Si Bro menambahkan penjelasannya, "Maksudnya masa karena gw malas di beberapa pelajaran yang gw rasa ga terlalu berpengaruh di hidup gw, gw dapet label bandel lah, keras kepala lah. Masa gw harus mengikuti approval dari guru - guru tentang seperti apa sukses yang mau gw capai."


Saya terdiam sejenak mencoba memahami. Mengingat kembali masa - masa belajar di tingkat menengah atas pada kisaran tahun 2007 - 2009.


Kemudian saya pun setuju dengan apa yang dia sampaikan bahwa ada beberapa hal yang secara tidak sadar kita pelajari dari sekolah dan itu membentuk cara pandang kita terhadap dunia.


Masa - masa SMA bagi sebagian orang mungkin dapat dikatakan sebagai masa paling indah. Cinta pertama, motor pertama, dan mungkin bagi sebagian remaja juga mendapatkan mobil pertama, dan ternyata pengalaman pertama menjadi sosok yang dianggap sudah dewasa tersebut juga menjadi penentu seperti apa kita melihat dunia ke depannya.


Ada banyak kritik mengenai dunia pendidikan di Indonesia. Namun saya tidak ingin anda terlalu membebani pikiran anda dengan berbagai teori mengenai manajemen mengurus kebangsaan.


Kita akan mulai dari hal pertama yang secara tidak langsung diajarkan sekolah kepadamu namun kamu tidak menyadarinya.


1. Suksesmu Ditentukan Oleh Approval Orang Lain


Seperti si Bro yang saya ceritakan di atas. Ia merupakan sosok yang cukup briliant dalam bidang sains ketika di kelas sepuluh. Dia juga merupakan salah satu anggota klub sains dan peserta Olimpiade Bidang Kimia.


Namun, menjelang kelas 11 dia sudah mulai merasakan bahwa tidak semua hal yang diajarkan di SMA akan menjadi tujuan hidupnya, sehingga ia mulai memilih pelajaran mana yang ia ingin perdalam dan mana yang tidak ingin ia dalami.


Karena kami merupakan sekolah khusus IPA, ia memilih untuk tidak mau ambil pusing dengan mata pelajaran lain seperti Bahasa Indonesia, kesenian yang absurd seperti membuat kotak tisu, dan juga kewarganeraan.


Ia menilai hal tersebut tidak akan relevan dengan harapannya dalam mendalami ilmu IPA. Lagian apa hubungannya ya seorang yang ingin mendalami Kimia tapi harus juga mendapat nilai sempurna dalam mata pelajaran Kewarganeraan ?


Apakah untuk mengantisipasi kemungkinannya memperdagangkan zat kimia berbahaya ke negara lain ?


Apakah mungkin mata pelajaran Kewarganeraan bisa mencegah keinginannya untuk menjadi seorang pedagang senjata bioteknologi yang dapat merusak negaranya ?


Saya juga tidak mengerti.


Tapi teman saya yang satu ini, memang mulai menunjukkan keinginan yang cukup kuat untuk "menjauh" dari sejumlah mata pelajaran yang tidak ada kaitannya dengan apa yang ingin ia capai menurutnya. Sehingga ia pun menjadi tidak begitu menikmati mata pelajaran tersebut, mulai sering bolos, dan memilih untuk tidak terlalu peduli.


Pihak sekolah pun menjadi gusar. Dalam hal ini saya tidak ingin menyatakan bahwa keseluruhan guru menjadi gusar. Tapi ada beberapa guru yang tidak bisa mentolerir hal tersebut. Teman saya pun mulai mendapat banyak masalah melalui labeling bahwa ia adalah anak yang tidak bisa diatur.


Singkat kata, teman tersebut kemudian disidangkan dan akhirnya dikeluarkan dari SMA kami.


Coba anda bayangkan, bagaimana Sekolah Kami mengambil keputusan terhadap teman saya tersebut.

pintar di sekolah ukurannya ialah menguasai buku teks kan ?

Ia hanya ingin fokus pada hal penting yang menurutnya akan menunjang long term goalsnya di bidang sains karena dia hanya berkeinginan untuk melanjutkan studi khusus di bidang ilmu pengetahuan alam. Tapi karena ia tidak ingin berkompromi dengan apa yang diajarkan sekolah, kemudian teman saya ini pun harus "lulus" lebih cepat. Ia pindah sekolah di semester 7 (ketika menginjak kelas 12).


Seperti itulah sistem sekolah mulai mengajarkan secara tidak langsung bahwa kita hanya bisa sukses jika mampu menjadi mirip dengan yang lainnya. Kita harus perlahan membuang mimpi hanya karena sedikit yang ikut bersorak dan sepemikiran. Kita mengikuti approval dari segelintir orang yang merasa hidup mereka akan sama seperti apa yang akan kita jalani.


Sekolah menunjukkan siapa yang bisa mengatur siapa. Sekolah mengajari bahwa sosok deviant harus dapat menyesuaikan dengan mayoritas manusia lain yang ada di sana. Meskipun si deviant sopan dan baik hati, tapi kalau sudah menyangkut perbedaan visi, maka kamu bukanlah bagian dari kami, dan silahkan memilih jalanmu sendiri.


Teman saya pun memilih jalannya sendiri. Terakhir ia lulus dari FMIPA Universitas Indonesia, kini ia menjadi seorang yang sering mengerjakan


2. Curang Itu Baik Demi Pengakuan


Saya bukanlah sosok yang suka menyontek sejak dari awal menginjakkan kaki di bangku Sekolah Dasar, dan saya bersyukur bahwa selama fase 10 tahun pendidikan pertama yang saya lewati, saya selalu bisa memupuk keyakinan dan kerja keras pada jawaban saya ketika ujian. Terlepas nilai baik dan buruk.


Ketika nilai baik saya bahagia dan tidak memamerkannya pada teman - teman yang bernilai lebih rendah. Ketika nilai jelek pun saya tetap melakukan hal yang sama. Saya selalu diajarkan bahwa hal paling penting dalam menuntut ilmu itu ialah proses. Bukan hasilnya.


Namun, ketika di kelas sebelas semua itu lenyap begitu saja. Saya dan teman - teman yang mungkin juga dicap bandel ketika itu justru menerapkan konsep pendidikan kolaboratif yang saat ini sedang gencar- gencarnya di kampanyekan.


Kami kolaboratif, dalam menjawab ujian semester dan pertengahan semester.


Kenapa kami melakukannya ? Karena bagi kami, gagal di ujian adalah hal yang memalukan daripada bersikap jujur.


Ketika persaingan orang dewasa untuk mendapatkan kredit bahwa mereka berhasil menanamkan teori - teori absurd yang diukur dari skor begitu ketat, mereka "menekan" kami yang saat itu belum mengerti akan kami bawa kemana semua teori itu.


Kemudian jika ada yang memperoleh skor paling baik, maka semua perhatian akan diarahkan pada sang juara, dan kaum "tertinggal" seperti saya dan teman - teman lainnya hanya akan dihargai sekenanya saja. Beberapa dari kami bahkan langsung mendapatkan label lambat, hanya karena skor kami rendah.


Label tersebut tidak secara terang - terangan disampaikan. Tapi itu terlihat dari cara memperlakukan beberapa diantara kami. Ketika ada yang "lambat" dan "super" berkumpul, maka yang "lambat" tidak akan dianggap.


Untuk sekedar pengakuan bahwa kami layak masuk pada kategori yang "super" maka kami pun melakukan kolaborasi, agar skor kami dari sesuatu yang tidak kami sukai dan belum tentu penting ke depannya itu dinilai tinggi dan bisa masuk dalam radar sekolah bahwa kami mampu melewati mata pelajaran tersebut.


Saya tidak ingin menarik persoalan label siswa "lambat" dan "cepat" ini ke dalam ranah personal karena saya mengerti bahwa pendidikan di negara ini adalah sesuatu yang kompleks, terlebih para guru dan sekolah juga merupakan korban dari kebijakan politisi yang punya berbagai kepentingan untuk ambisi politis mereka.


3. Gagal Adalah Hal Memalukan


Mudah menjadi sukses ketika kita mampu mengikuti pola yang sudah diterapkan, ini artinya jika seorang siswa ingin mendapatkan nilai yang bagus dan lulus di seluruh ujian, maka yang perlu dilakukan hanyalah mengikuti apa yang sudah digariskan oleh sekolah dan buku paket tanpa perlu untuk mempelajari hal yang baru.


Gagal sebagai hal memalukan diajarkan melalui penghargaan bagi mereka yang berhasil menggapai nilai tertinggi di bidang mata pelajaran dan hampir tidak pernah memberikan rewards bagi mereka yang berhasil menjalankan organisasi kesiswaan ataupun kepanitiaan besar untuk event yang menebar keharuman bagi nama baik sekolah.


Malah sekalipun kamu sukses dalam organisasi ataupun kepanitiaan, tetaplah sorot mata dan kalimat judjing akan mengarah padamu.


“Makanya, jangan sibuk organisasi…pelajaran itu lebih penting, lihat jadi jelek kan nilainya”


Kalimat yang paling ngehe yang saya yakin kerap diterima oleh kamu yang memang sudah mengerti bahwa pelajaran sekolah hanya akan kamu telantarkan ketika kamu bekerja di kantoran misalnya.


Setelah mendapat kalimat itu kamu pasti langsung berpikir, bahwa hidup tidak akan berarti karena nilai kita jelek sekalipun kamu sukses membangun relasi dan juga belajar banyak ilmu mengenai bergorganisasi.


Sudah gagal, kemudian di judge. Bahkan terkadang judgement ini tidak hanya hadir dari guru, kepala sekolah, dan pegawai TU. Tapi juga dari orang tua dan teman - teman lain yang memiliki nilai pelajaran lebih baik.


Beratnya hukuman terhadap kegagalan menyebabkan kegagalan bisa dianggap sesuatu yang alergik, tidak boleh terjadi, bahkan tidak boleh ada. Tak heran bila kita melihat tumbuh suburnya sikap defensif.

Kebiasaan untuk menghindari kegagalan ini selain menimbulkan stres, juga menghilangkan separuh kesempatan untuk belajar. Padahal kalau dipikir-pikir, mungkinkah kita belajar dari kesuksesan saja? Sikap menghindari kegagalan ini pun kita teruskan, dan membuat kita tidak lagi tertarik pada "coba - coba" melakukan sesuatu yang baru. Namun kita menumbuhkan sikap untuk siap membuang diri dari kegagalan dengan hanya mendekati kepastian.


Kepastian pekerjaan yang nyaman, kepastian tujuan karir, kepastian pada hidup serba rata - rata.


Kita pun menjadi semakin penakut dianggap gagal dari luar.


4. Gelar Menentukan Kebahagiaan dan Kemakmuran


Ketika bersekolah, kamu mulai mendapatkan banyak masukan bahwa untuk memiliki penghasilan tak terhingga dan hidup yang lebih baik ialah dengan memiliki spesialiasi sedini mungkin.


Caranya, ya menambah sebanyak mungkin portofolio gelar di depan ataupun di belakang namamu. Jadi semenjak saat itu kamu mulai gelisah karena sepertinya kamu memang tidak merasa mampu untuk memiliki gelar tersebut.


Ya ibaratnya, ujian saja sering gagal terus ditambah lagi dorongan setengah mengandung ekspektasi agar mendapatkan beasiswa atau berkuliah setinggi mungkin.


Cerita sukses dari para alumni yang sudah menyebar ke berbagai belahan dunia dengan pendidikan tingginya membuat kamu keder. Karena para alumni tersebut juga kerap upload foto dengan ekspresi bahagia dari berbagai kota di luar negeri yang menjadi lokasi mereka menuntut ilmu pasca sarjana.


Kamu mungkin juga pernah mencoba untuk mengejar gelar master hingga doktoral, sampai kamu tiba pada satu kesimpulan bahwa ternyata tidak semua hal yang ingin kamu tuju dapat terbantu oleh gelar ataupun spesialisasi pendidikan formal yang kamu miliki.


Pada dasarnya dunia saat ini bergerak begitu cepat dan ilmu pengetahuan dapat dipelajari tanpa ada batasan institusi. Yang lebih penting dari itu semua ialah bagaimana kita dapat menghubungkan berbagai ilmu yang kontekstual ketika diaplikasikan di bidang yang ingin kita tekuni.


Setelah bertahun - tahun kamu secara tidak langsung memiliki pemahaman bahwa gelar akan menjadi kunci melimpahnya kebahagiaan dan materi.


Tapi kemudian, kamu akan menemukan bahwa kunci kemakmuran dan kebahagiaan sebenarnya bukanlah terletak pada gelar atapun strata pendidikan.


"Don't confuse education with schooling. I didn't go to Harvard, but people who work for me did" - Elon Musk

5. Disiplin Adalah Kerapihan Rambut dan Kelengkapan Atribut


Ada banyak miskonsepsi dalam kita memahami kedisplinan, dan sekolah agaknya tidak cukup waktu untuk menanamkan pengertian disiplin ini dengan baik. Saya pun kerap secara tidak sadar mengartikan kedisplinan ini ialah sesuatu yang berkaitan dengan sepatu mengkilap, atribut seragam lengkap, dan rambut yang sesuai dengan ketentuan yang dianut persekolahan (rapih dan pendek).


Padahal disiplin sama sekali bukanlah hal tersebut. Disiplin ialah patuh pada nilai positif yang diakui bersama. Sejak kapan kita bisa diterima masyarakat hanya karena kita disiplin untuk memangkas rambut sesuai dengan ketentuan sekolah.

Seragam ialah image SUKSES kita

Inilah yang secara tidak sadar membuat kita kita begitu mudah memberikan snap judgement bahwa penampilan rapi identik dengan image orang baik dan disiplin.


Padahal banyak yang berpenampilan rapi sebenarnya kemungkinan besar juga memiliki ciri psikopat.


Namun karena kita sudah terlalu lama dijejali praktek pendisiplinan dengan berpenampilan rapi, kita pun tidak benar - benar paham seperti apa disiplin yang harus kita jalani.


Faktanya ketika kita memasuki dunia di luar sekolah kita memperhatikan ada begitu banyak mereka yang penampilannya acak - acakan tapi menghasilkan temuan - temuan yang mengubah wajah dunia. Sebaliknya, berapa banyak pejabat yang berpenampilan rapi sesuai image disiplin yang ditanamkan di sekolah justru menjadi "pembunuh sadis" dengan memakan uang rakyat.


Namun, sulit dipungkiri bahwa efek penanaman image disiplin yang kita terima sejak persekolahan membuat kita hingga hari ini memang lebih mudah untuk memberikan respon positif pada mereka yang rapi daripada yang acak - acakan.



Referensi :


Gladwell, Malcolm 2015. BLINK : Kemampuan Berpikir tanpa Berpikir. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama


Article on internet : https://www.liputan6.com/health/read/3000471/15-tanda-kawan-anda-seorang-psikopat


Article on internet : https://edukasi.kompas.com/read/2018/08/20/15553111/tekanan-sosial-hampir-selalu-mempengaruhi-setiap-keputusan-kita?page=all (diakses 6 Maret 2020)












113 views1 comment